Investor Waspadai Konflik Hamas-Israel, Wall Street Ditutup Menguat

Pada perdagangan Selasa (10/10), indeks saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat dan mencatat kenaikan hari ketiga berturut-turut. Hal ini dipengaruhi oleh sikap bank sentral yang menunda kenaikan suku bunga mendorong imbal hasil Treasury lebih rendah, karena investor dengan hati-hati memantau perkembangan konflik antara Hamas dan Israel.

Ditambah, Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic mengatakan bank sentral AS tidak perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut, dan ia melihat tidak ada resesi di masa depan.

Dikutip dari Reuters, Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 134,65 poin, atau 0,4 persen menjadi 33.739,3, S&P 500 (.SPX) bertambah 22,58 poin, atau 0,52 persen menjadi 4.358,24 dan Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 78,61 poin, atau 0,58 persen menjadi 13.562,84.

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 menguat dengan utilitas (.SPLRCU) memimpin kenaikan, sementara sektor yang mengalami penurunan terbesar adalah energi (.SPNY) yang turun 0,02 persen setelah naik 3,5 persen pada hari Senin.

S&P 500 mencatat 11 harga tertinggi baru dalam 52 minggu dan 2 harga terendah baru, Nasdaq Composite mencatat 51 titik tertinggi baru dan 178 titik terendah baru.

Di bursa AS, terdapat 9,91 miliar saham berpindah tangan dibandingkan dengan rata-rata pergerakan 10,70 miliar dari 20 sesi terakhir.

“Setiap orang mempunyai pandangan yang sama terhadap konflik di Timur Tengah dan juga apa yang terjadi dengan imbal hasil obligasi. Penurunan imbal hasil obligasi adalah pendorong utama saat ini,” kata Direktur Pelaksana dan Co-chief investment officer, John Praveen, di Paleo Leon.

Meskipun sikap The Fed untuk menunda kenaikan suku bunga membantu pergerakan saham pada hari Selasa dan investor bersikap optimis terhadap Timur Tengah, Praveen mengatakan pandangan tersebut dapat berubah jika misalnya konflik tersebut menyebar ke negara-negara lain di kawasan tersebut.

FLUKTUATIF

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi masih berada di posisi fluktuatif pada perdagangan Rabu (11/10). Pada perdagangan Selasa (10/10), IHSG ditutup menguat 30,733 poin (0,45 persen) ke 6.922,188.

Analisis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis, memperkirakan IHSG akan berfluktuasi dalam rentang 6.900-6.950 pada perdagangan Rabu (11/10).

Rally harga commodity-related stocks diperkirakan mulai tertahan di hari ini,” tutur Alrich dalam keterangannya pada Rabu (11/10).

Hal ini menurutnya merupakan respons dari pandangan sejumlah pengamat ekonomi bahwa dampak konflik di Timur Tengah terhadap harga komoditas, terutama minyak mentah, kemungkinan terbatas. Pasalnya konflik tidak berpusat pada area utama produksi minyak di Timur Tengah.

Sementara, dari dalam negeri, Alrich memandang, data ekonomi domestik terbaru menunjukkan perlambatan pertumbuhan penjualan ritel ke 1,1 persen yoy di Agustus 2023 dari 1,6 persen yoy di Juli 2023.

“Oleh sebab itu, pelaku pasar dapat kembali mencermati peluang rebound lanjutan pada saham-saham bluechip, termasuk BBRI, TLKM, TOWR, ESSA, MEDC dan EXCL,” tambah Alrich.

Sementara, CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Surya Wijaya memproyeksikan IHSG akan bergerak pada 6.789-6.978. Menurutnya, IHSG masih terlihat dalam rentang konsolidasi wajar di tengah minimnya sentimen yang mempengaruhi pergerakan IHSG.

Sedangkan dalam jangka panjang, William menyebut IHSG masih berpeluang untuk naik. Hal ini dikarenakan kondisi pergerakan IHSG masih berada dalam jalur uptrend jangka panjang.

“Momentum koreksi wajar masih dapat dimanfaatkan oleh investor untuk melakukan akumulasi pembelian dengan time frame jangka panjang, hari ini IHSG berpotensi tertekan,” tutur William dalam keterangannya pada Rabu (11/10).

Adapun beberapa saham yang direkomendasikan William meliputi UNVR,ICBP, BBCA, BBNI, PWON, ASRI, TLKM, TBIG juga SMRA.

 

Leave a Comment