Investor Tunggu Laporan Ketenagakerjaan AS, Wall Street Melemah

Pada perdagangan Kamis (31/8/2023), indeks saham Amerika Serikat atau Wall Street kehilangan momentum penguatan. Hal ini lantaran investor menunggu laporan ketenagakerjaan AS, setelah rilis data inflasi AS beberapa hari lalu.

Laporan Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS) menunjukkan, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atawa personal consumption expenditures (PCE), yang dianggap sebagai ukuran inflasi pilihan The Fed, naik 3,3 persen secara tahunan pada bulan Juli. Sementara itu, di luar komponen pangan dan energi yang mudah berubah, indeks harga inti PCE naik 4,2 persen secara tahunan pada bulan Juli, juga sejalan dengan perkiraan.

Mengutip Reuters, Jumat (1/9), Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 168,33 poin atau 0,48 persen menjadi 34.721,91, S&P 500 (.SPX) kehilangan 7,21 poin atau 0,16 persen menjadi 4.507,66. Sementara Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 15,66 poin atau 0,11 persen menjadi 14.034,97.

Nasdaq yang sarat teknologi ditutup sedikit lebih tinggi, sementara S&P 500 bergabung dengan Dow di wilayah negatif. Ketiga indeks tersebut membukukan kerugian pada Agustus, dengan S&P 500 mengalami persentase penurunan terbesar sejak Februari dan Nasdaq mencatat penurunan terbesarnya tahun ini.

“Pada bulan Agustus, sedikit antusiasme seputar AI dan nama-nama teknologi besar telah tercerna. Investor mencari tema yang memperluas dukungan di luar tujuh saham besar yang berkontribusi paling besar terhadap imbal hasil sepanjang tahun ini,” kata Joseph Sroka, kepala investasi di NovaPoint di Atlanta.

Sementara itu, saham-saham Eropa membalikkan kenaikan sebelumnya menjadi lebih rendah karena jatuhnya saham-saham konsumen kebutuhan pokok dan barang mewah mengimbangi kenaikan di sektor keuangan dan real estat.

Indeks STOXX 600 pan-Eropa (.STOXX) kehilangan 0,20 persen dan indeks saham MSCI di seluruh dunia (.MIWD00000PUS) merosot 0,25 persen.

Saham-saham negara berkembang juga kehilangan 0,84 persen. Indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang (.MIAPJ0000PUS) ditutup melemah 0,38 persen, sedangkan Nikkei Jepang (.N225) naik 0,88 persen.

DIPREDIKSI MELEMAH

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan Jumat (1/9). Pada perdagangan Kamis (31/8), IHSG ditutup turun 13,396 poin (0,19 persen) ke 6.953,26.

Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, memprediksi IHSG rawan terkoreksi hari ini, bergerak di level resistance 7000, pivot 6950, dan level support 6880.

“IHSG tutup gap ke 6950 dan Stochastic RSI berpotensi membentuk death cross di overbought area. Dengan demikian, IHSG rawan koreksi lanjutan ke kisaran 6900-6930 di Jumat,” ujar Alrich dalam analisisnya, Jumat (1/9).

Alrich menjelaskan, perbaikan indeks manufaktur China ke 49.7 di Agustus 2023 dari 49.3 di Juli 2023 belum direspons positif oleh pelaku pasar di Indonesia. Sebab, data tersebut menunjukkan bahwa sektor manufaktur China masih berada dalam fase kontraksi.

Sementara itu, indeks manufaktur Indonesia diperkirakan masih bertahan di atas 50 di Agustus 2023. Kemudian ada potensi kenaikan inflasi ke 3,33 persen (yoy) di Agustus 2023 dari 3,08 persen (yoy) di Juli 2023.

Alrich merekomendasikan saham yang berpotensi cuan hari ini yaitu BMRI, BRIS, ADMR, INCO, SMSM, TPIA, ISAT dan DSNG.

CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Surya, juga memproyeksi pergerakan IHSG akan bergerak sideways alias stagnan di rentang 6.888-7.082 pada akhir pekan sekaligus awal bulan September 2023 ini.

Menurutnya, pola gerak IHSG akan diwarnai oleh rilis data perekonomian tingkat inflasi yang disinyalir masih akan menunjukkan stabilnya kondisi perekonomian Indonesia.

“Namun gelombang tekanan terlihat masih cukup besar serta sentimen dari tercatatnya capital outflow secara ytd tetap perlu diwaspadai, hari ini IHSG berpotensi bergerak sideways,” tuturnya.

William merekomendasikan saham yang bisa dikoleksi hari ini yaitu BMRI, AKRA, BBRI, AALI, HMSP, ASII, TBIG, dan BSDE.

 

Leave a Comment