Investor Optimistis di Tengah Pekan Sibuk Laporan Keuangan, Wall Street Ditutup Menguat Tajam

Pada perdagangan Senin (16/10/2023), indeks utama saham Amerika Serikat (AS) alias Wall Street ditutup menguat tajam. Penguatan tersebut ditopang oleh optimisme investor di tengah dimulainya musim laporan keuangan.

Mengutip Reuters, Selasa (17/10), Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 0,93 persen menjadi 33.984,54, S&P 500 (.SPX) bertambah 1,06 persen menjadi 4.373,63 dan Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 1,2 persen menjadi 13.567,98.

Laporan itu menyebutkan, pelaku pasar masih memantau konflik yang terjadi di Timur Tengah. Namun, mereka lebih memilih mengambil sikap berisiko pada hari Senin, dengan turunnya harga emas sebagai aset safe-haven.

Pasukan Israel terus membombardir Gaza. Ini telah menewaskan ribuan orang, termasuk banyak perempuan dan anak-anak, setelah upaya untuk mengatur gencatan senjata terhenti.

“Setidaknya untuk hari ini, pasar melihat musim pendapatan yang lebih kuat, minggu yang lebih kuat dalam hal pendapatan,” kata Kepala Strategi Global LPL Financial Quincy Krosby.

Krosby mengatakan, para pemimpin global juga berusaha memastikan konflik antara Israel dan Hamas tetap terkendali.

Lebih lanjut, Indeks Volatilitas Cboe (.VIX) berakhir lebih rendah, sementara Dow mencatat persentase kenaikan harian terbesarnya dalam waktu sekitar satu bulan. Selain itu, rata-rata transportasi Dow Jones (.DJT) yang sensitif secara ekonomi melonjak 1,9 persen dalam persentase kenaikan satu hari terbesar sejak akhir Juli, dan indeks saham kecil Russell 2000 (.RUT) naik 1,6 persen.

“Kebijakan konsumen (.SPLRCD) memimpin kenaikan di antara sektor-sektor S&P 500, meskipun semua sektor menguat pada hari itu,” tutup laporan tersebut.

DITUTUP TURUN

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun pada penutupan perdagangan Senin (16/10). IHSG turun 30,49 poin atau 0,44 persen menjadi 6.896,29. Hari ini IHSG diprediksi melanjutkan tren pelemahan.

Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menganalisa pergerakan IHSG pada Senin kemarin menunjukkan bahwa Stochastic RSI membentuk death cross di overbought area. Pelemahan tersebut diikuti kenaikan volume transaksi.

“Dengan demikian, IHSG masih rawan terhadap potensi pelemahan lanjutan ke kisaran support 6.875 di Selasa (17/10),” kata Alrich, Selasa (17/10).

Adapun sentimen negatif yang mempengaruhi IHSG berasal dari realisasi kinerja ekspor dan impor Indonesia yang masing-masing turun 16,17 persen yoy dan 12,45 persen yoy di September 2023. Kinerja tersebut bahkan lebih buruk dari ekspektasi, yakni turun 13,5 persen yoy dan 5,5 yoy.

Meski surplus neraca perdagangan Indonesia (NPI) naik ke USD 3,42 miliar, akan tetapi nilai tukar Rupiah kembali tertekan. Nilai rukar Rupiah menembus Rp 15,700/USD di Senin (16/10) sore.

Faktor eksternal yang mempengaruhi IHSG hari ini adalah pasar yang terus mencermati perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak bumi cenderung terkoreksi hingga Senin (16/10) sore.

Menurut Alrich, kondisi eksternal dan faktor internal tersebut diperkirakan akan memperkuat kecenderungan wait and see dari pelaku pasar.

“Top picks kami di Selasa (17/10) terbatas pada speculative buy di MBMA, INDF, MIKA dan saham energi dengan komposisi ekspor cukup besar seperti ADRO, ADMR dan HRUM,” pungkasnya.

Sementara CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas William Surya memproyeksi, pergerakan IHSG hari ini berada di rentang 6.789-6.978.

Kata William, pergerakan IHSG saat ini sedang menunjukkan pola tekanan terbatas, namun selama support level terdekat mampu dipertahankan di tengah tekanan yang berlangsung maka pergerakan IHSG masih akan cenderung bergerak sideways.

“Minimnya sentimen yang dapat mendorong kenaikan IHSG serta masih terjadinya capital outflow yang telah tercatat secara ytd masih menjadi tantangan tersendiri bagi emiten yang berada dalam pasar modal, hari ini IHSG berpotensi bergerak sideways,” kata William.

Saham yang William rekomendasikan adalah BBNI, TBIG, ITMG, BBCA, GGRM, ICBP, dan ASRI. (*)

 

Leave a Comment