Investor Optimis Suku Bunga The Fed Turun, Wall Street Ditutup Menguat

Pada perdagangan Selasa (19/12/2023), Bursa Saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat, seiring berlanjutnya kebijakan dovish Federal Reserve minggu lalu dan investor menantikan data inflasi yang penting.

Pada akhir pertemuan kebijakan bank sentral Rabu lalu, Komite Pasar Terbuka Federal mengisyaratkan bahwa mereka telah mencapai akhir dari siklus pengetatan, untuk kemudian dan membuka peluang bagi penurunan suku bunga di tahun mendatang.

Dikutip dari Reuters, Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 251,9 poin, atau 0,68 persen menjadi 37.557,92, S&P 500 (.SPX) bertambah 27,81 poin, atau 0,59 persen menjadi 4.768,37 dan Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 98,03 poin, atau 0,66 persen menjadi 15.003,22.

Blue-chip Dow (.DJI) kembali mencatatkan penutupan tertinggi sepanjang masa. Desember ini, saham-saham berkapitalisasi kecil mengalami kinerja yang kuat, di mana Russell 2000 (.RUT) memimpin kenaikan, naik 1,9 persen. Indeks telah melonjak lebih dari 11,7 persen pada bulan Desember sejauh ini.

“Ini adalah kekhawatiran The Fed. Dan tidak ada katalis nyata pada saat ini di tahun kalender yang dapat memberikan tekanan penurunan apa pun,” kata Analis Strategi Investasi, Ross Mayfield.

Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic mengatakan, tidak ada urgensi untuk mulai menurunkan suku bunga, mengingat kekuatan ekonomi dan lambatnya laju inflasi menuju target tahunan bank sentral sebesar 2 persen.

Meski begitu, pasar keuangan memperkirakan kemungkinan 67,5 persen bahwa The Fed akan menerapkan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Maret, menurut alat FedWatch CME.

“Pasar mungkin sedikit mendahului The Fed dan The Fed benar dalam memberikan batasan mengenai hal tersebut. Tetapi pasar tidak benar-benar mempercayainya dan The Fed tidak berbuat banyak untuk mengubah narasi tersebut,” kata Mayfield.

S&P 500 membukukan 48 titik tertinggi baru dalam 52 minggu dan 1 titik terendah baru, Nasdaq Composite mencatat 200 titik tertinggi baru dan 82 titik terendah baru. Volume di bursa AS adalah 11,61 miliar lembar saham, dibandingkan dengan rata-rata 11,97 miliar saham untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

DIPREDIKSI TERTEKAN

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi tertekan pada perdagangan Rabu (20/12). Dalam perdagangan Selasa (19/12) IHSG tercatat menguat 0,96 persen di level 7.187.

CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Surya Wijaya mengatakan indeks saham masih belum terlihat akan beranjak dari rentang konsolidasi wajar. Namun peluang tekanan dalam jangka pendek masih bersifat minor.

“Hal ini tentunya dapat menjadi salah satu pertimbangan investor dalam menentukan time frame investasi jelang pergantian tahun,” kata William dalam prediksinya, Rabu (20/12).

William bilang, investor dapat memanfaatkan peluang jika terjadi koreksi minor. Terutama untuk saham saham yang berfundamental kuat.

“Hari ini IHSG berpotensi tertekan,” tegasnya.

Saham yang direkomendasikan William HMSP, UNVR, BBCA, BBNI, GGRM, KLBF, TBIG, PWON dan BINA.

Sementara itu, Analis Bina Artha Sekuritas, Ivan Rosanova mengatakan IHSG membentuk candle bullish pada hari Selasa dan masih di atas area support 7.070-7.082. Sehingga dapat melanjutkan penguatannya menuju 7.255 sebagai resisten berikutnya apabila menembus ke atas 7.225.

“Level support IHSG berada di 7.070, 7.041 dan 7.000, sementara level

resistennya di 7.225, 7.255, 7.300 dan 7.356. Berdasarkan indikator MACD dalam kondisi netral,” kata Ivan.

Saham yang direkomendasikan Ivan adalah INCO, MDKA, PGAS, dan TKIM.

***

 

Leave a Comment