Investor Mengamati Data Pekerjaan AS, Wall Street Berakhir Beragam

Pada perdagangan, Kamis (4/8/2022), Indeks saham Amerika Serikat (AS), Wall Street berakhir bervariasi. Salah satu yang menjadi sentimen pasar AS adalah rilisnya laporan pekerjaan bulanan, yang merupakan petunjuk The Fed untuk menaikkan suku bunga.

Mengutip dari Reuters, Jumat (5/8), Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 85,68 poin atau 0,26 persen menjadi 32.726,82, S&P 500 (.SPX) kehilangan 3,23 poin atau 0,08 persen menjadi 4.151,94 dan Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 52,42 poin, atau 0,41 persen menjadi 12.720,58.

Adapun Nasdaq yang padat dengan saham teknologi mengalami peningkatan tertinggi dalam tiga bulan yang dipimpin oleh Amazon.com Inc (AMZN.O) dan Advanced Micro Devices (AMD.O). Sementara kerugian dalam saham energi termasuk Exxon Mobil dan Chevron Corp (CVX.N) membebani pada S&P 500.

S&P 500 telah naik sekitar 14 persen dari posisi terendah pertengahan Juni, akan tetapi masih turun sekitar 13 persen untuk tahun 2022 di tengah kekhawatiran seputar dampak perang Ukraina. Selain itu, inflasi yang melonjak dan gejolak COVID-19 di China serta kenaikan agresif suku bunga ikut menambah kekhawatiran investor.

Laporan pendapatan yang kuat dan kenaikan mengejutkan dalam aktivitas sektor jasa telah mengirim indeks utama naik tajam di sesi sebelumnya.

Adapun fokus investor pada hari ini, adalah laporan ketenagakerjaan AS yang diawasi ketat. Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (4/8) merilis, dalam sepekan yang berakhir pada 30 Juli 2022, klaim kehilangan pekerjaan meningkat 6 ribu dari pekan sebelumnya.

“Dalam sepekan terakhir hingga 30 Juli 2022, klaim kehilangan pekerjaan mencapai 260 ribu,” demikian dinyatakan Departemen Tenaga Kerja AS. Padahal pada pekan sebelumnya, tulis laporan yang sama, klaim asuransi kehilangan pekerjaan masih di angka 254 ribu.

Baca Juga:   Sektor Saham yang Paling Minim Terdampak COVID-19

Tanda-tanda kekuatan apa pun di pasar tenaga kerja dapat memicu kekhawatiran akan langkah agresif The Fed untuk mengekang inflasi. Adapun The Fed menargetkan pertumbuhan inflasi bisa ditekan hingga 2 persen dari yang saat ini ada di posisi 9,1 persen.

Di sisi lain, kekhawatiran mengenai ekonomi global yang melambat mendorong harga minyak ke level terendah sejak sebelum adanya invasi Rusia ke Ukraina pada Februari. Kemudian, imbal hasil obligasi AS yang tergelincir setelah Bank of England menambah resesi yang panjang. (*)

 

Leave a Comment