Investor Khawatir Pemulihan Ekonomi Semakin Lama, Wall Street Kembali Merosot

Ketiga indeks utama Wall Street kembali merosot di akhir pekan lalu. Meningkatnya kasus baru COVID-19 dan pengumuman Apple Inc yang kembali menutup sejumlah tokonya membuat investor khawatir tertundanya pemulihan ekonomi.

Padahal sejak Rabu lalu, Wall Street mengalami kenaikan akibat sentimen positif obat steroid generik dexamethasone dapat mengurangi tingkat kematian COVID-19.

Dilansir Reuters, Senin (22/6), Dow Jones Industrial Average turun 266,56 poin atau 1,02 persen menjadi 25.813,54, indeks S&P 500 kehilangan 26,47 poin atau 0,85 persen menjadi 3,088,87, dan Nasdaq Composite turun 53,46 poin atau 0,54 persen menjadi 9,889.59.

“Itu berubah dari hari yang cukup positif ke hari yang lemah secara dramatis dan cepat,” kata Peter Tuz, Presiden Chase Investment Counsel di Charlottesville, Virginia.

Apple mengumumkan akan kembali menutup sementara beberapa tokonya di Florida, Arizona, Carolina Selatan, dan Carolina Utara.

Kasus baru COVID-19 mencatatkan rekor di enam negara bagian AS. Sementara itu, China yang merupakan tempat pandemi itu berasal, juga melaporkan adanya peningkatan kasus baru penyakit ini.

“Sepanjang pekan lalu ada berita mengenai lonjakan kasus COVID di AS dan di seluruh dunia, itu menyebabkan kekhawatiran bahwa ekonomi tidak pulih secepat yang diharapkan orang,” tambah Tuz.

Namun selama seminggu, S&P 500, Dow, dan Nasdaq berada di zona positif dan membukukan kenaikan persentase yang cukup solid.

S&P 500 dan Dow naik masing-masing 9 persen dan 13 persen, kenaikan tertinggi sejak Februari. Sementara Nasdaq turun sekitar 1 persen di bawah penutupan tertinggi pada 10 Juni.

Di sisi lain, Ketua Federal Reserve Jerome Powell memperingatkan, pemulihan ekonomi dari pandemi ini akan menjadi tantangan dan pemulihan tidak akan berlangsung secara cepat.

Baca Juga:   Usai Bos The Fed Beri Sinyal Penurunan Suku Bunga, Wall Street Melesat

Bahkan Presiden The Federal Minneapolis, Neel Kashkari, menuturkan adanya gelombang kedua virus corona di AS. Hal ini akan berdampak pada naiknya angka pengangguran.

“Sayangnya, skenario dasar saya adalah bahwa kita akan melihat gelombang kedua virus di AS, mungkin musim gugur ini,” kata Kashkari saat obrolan Twitter yang dimoderatori oleh CBS News.

“Jika ada gelombang kedua, tingkat pengangguran naik lagi,” lanjutnya.

AMC Entertainment Holdings Inc, operator bioskop terbesar di dunia turun 2,0 persen, setelah pengumuman bahwa perusahaan akan membuka kembali bioskop di sekitar 450 lokasi di AS pada bulan depan. Namun hal ini diliputi oleh ketakutan investor akan adanya penutupan kembali.

Maskapai penerbangan, yang paling terpukul oleh lockdown turun tajam, dengan indeks S&P 1500 Airline turun 4,2 persen.

Volume perdagangan di Wall Street mencapai 15,84 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata 13,17 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir.

 

Leave a Comment