Sebuah berita menghebohkan beredar hari ini (12/9/2019). Konon, ada salah satu broker salah input saat akan membeli saham Gudang Garam (GGRM). Klien memesang saham GGRM sebanyak 35000 lembar, tetapi sang broker berinisial DH itu diduga malah keliru input 35000 lot, kemudian langsung menjualnya lagi setelah menyadari adanya error. Insiden yang terjadi pada perdagangan sesi dua tersebut sempat menggemparkan jagad Twitter dan para investor nusantara, karena nilai kerugian diperkirakan mencapai miliaran Rupiah.

Insiden broker saham salah input bukan satu kali ini saja. Dalam sejarah pasar modal Indonesia, sudah berulang kali terjadi.
- 15 Februari 2008, broker PT JP Morgan Securities Indonesia salah memasukkan input harga transaksi saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) sebesar Rp 3,62 juta per lembar saham, padahal seharusnya cuma Rp 362 per lembar saham. Insiden terjadi di pasar reguler, BEI mengenakan denda Rp 100 juta.
- 23 April 2009, broker PT Trimegah Securities bahkan melumpuhkan sistem BEI lantaran salah input transaksi saham PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) hingga 220.086 kali berturut-turut. Dalam insiden tersebut, Trimegah dikenai denda Rp 200 juta.
- 2 September 2009, Kim Eng Sekuritas salah memindahtangankan saham PGAS pada harga Rp 715.000 per lembar saham di pasar negosiasi. Padahal, harga PGAS saat itu hanya Rp 3.325 per lembar saham. BEI mengharuskan broker memperbaiki sebelum penutupan pasar, tetapi tak mengenakan denda karena tak memengaruhi pasar reguler.
- 5 November 2010, giliran broker PT Macquarie Capital Securities Indonesia yang diduga salah input. Mereka tercatat input order sebanyak 2.000 lot saham ICBP di pasar negosiasi dengan harga Rp 46.303.884 per lembar saham.
- 29 Juli 2016, Bahana Sekuritas juga disinyalir salah input saham HMSP. Saat dikonfirmasi, pihak broker membantah telah terjadi salah order, melainkan murni order nasabah.
Insiden-insiden seperti ini menimbulkan gejolak harga abnormal di bursa saham, sehingga trader kebanyakan yang cuma ikut arus bisa jadi rugi sangat besar maupun memperoleh rejeki nomplok. Untuk mengantisipasinya, sebaiknya Anda tak hanya memelototi grafik saja, melainkan menganalisis latar belakang pergerakan harga. Lebih baik lagi jika Anda tahu kisaran harga wajar yang sesuai bagi setiap saham koleksi, sehingga tak terburu-buru mengambil keputusan yang keliru dan malah bisa memanfaatkan situasi untuk ambil untung.
Tagged With : investor saham • saham