Indeks Utama Wall Street Berguguran, Efek Investor Jual Saham Teknologi

Pada penutupan perdagangan, Rabu (3/3/2021), waktu setempat, Bursa Saham Amerika Serikat atau Wall Street tertekan. Karena anjloknya saham-saham teknologi, tiga indeks utama Wall Street berguguran.

Dow Jones Industrial Average turun 0,39 persen menjadi 31.270,09 poin, S&P 500 kehilangan 1,31 persen menjadi 3.819,72, dan Nasdaq Composite anjlok hingga 2,7 persen menjadi 12.997,75.

Nasdaq turun paling dalam setelah para investor menjual saham teknologi yang sehari sebelumnya terbang tinggi. Ini menempatkan Nasdaq pada level terendah sejak awal Januari dan mengurangi kenaikannya pada 2021 menjadi kurang dari 1 persen .

“(Para investor) beralih ke sektor-sektor yang dipandang lebih mungkin mendapatkan keuntungan dari pemulihan ekonomi di belakang stimulus fiskal dan program vaksinasi,” demikian laporan Reuters dikutip kumparan, Kamis (4/3).

Microsoft Corp, Apple Inc, dan Amazon.com Inc turun lebih dari 2 persen. Ini membebani lebih dari saham lain di S&P 500.

Indeks sektor keuangan dan industri S&P 500 mencapai rekor tertinggi harian. Sebagian besar sektor S&P 500 lainnya menurun.

“Peluncuran vaksin berjalan lancar dan ekonomi membaik memberikan ekspektasi ke tingkat lebih tinggi yang justru mengganggu pertumbuhan saham,” kata Ahli Strategi Investasi Baird Ross Mayfield, di Louisville, Kentucky.

Seperti diketahui, pemerintah AS di bawah Presiden Joe Biden tentang mengakselarasi pemulihan ekonomi di negaranya. Berdasarkan laporan Bank Sentral AS The Federal Reserve, para pebisnis pun optimistis di bulan-bulan mendatang, termasuk bakal ada permintaan yang kuat untuk perumahan. Hanya perbaikan di pasar tenaga kerja yang lambat.

Sementara distribusi vaksin diharapkan membantu perekonomian, data menunjukkan pengusaha swasta AS mempekerjakan lebih sedikit pekerja dari yang diharapkan pada Februari. Ini menunjukkan pasar tenaga kerja sedang berjuang untuk mendapatkan kembali kecepatannya.

Laporan lain mengatakan, aktivitas industri jasa AS secara tak terduga melambat pada bulan lalu di tengah badai musim dingin. Sementara ukuran harga yang dibayarkan oleh perusahaan untuk input melonjak ke level tertinggi dalam hampir 12,5 tahun.

Imbal hasil Treasury AS 10 tahun naik hingga 1,47 persen menekan area pasar dengan penilaian tinggi. Sebenarnya angka ini masih lebih rendah dibandingkan minggu lalu di atas 1,61 persen yang mengguncang pasar saham karena investor bertaruh pada kenaikan inflasi.

Kenaikan suku bunga secara tidak proporsional merugikan perusahaan teknologi dengan pertumbuhan tinggi karena investor menilai mereka berdasarkan pendapatan yang diharapkan di tahun-tahun mendatang.

Lalu, suku bunga yang tinggi merugikan nilai pendapatan di masa depan lebih dari nilai pendapatan yang dibuat dalam jangka pendek.

“Ada hambatan pasti untuk pasar ekuitas jika imbal hasil naik di atas level 1,5 persen dengan sebagian besar investor mengawasi laju pertumbuhan imbal hasil,” kata Kepala Investasi di BMO Wealth Management, Michael Stritch.

 

Leave a Comment