Imbas Larangan Impor Minyak Rusia, Wall Street Melemah

Pada perdagangan hari Selasa kemarin, Wall Street melemah. Penyebabnya, Amerika Serikat (AS) melarang minyak Rusia dan impor energi lainnya atas invasi Rusia ke Ukraina.

Dikutip dari Reuters, Rabu (9/3), Investor khawatir bahwa sanksi yang diberikan AS terhadap Rusia menambah tekanan inflasi, sehingga merugikan ekonomi global.

Presiden AS, Joe Biden, mengumumkan larangan impor minyak Rusia dan energi lainnya. Ia mengaku akan menaikkan harga energi AS. Di sisi lain, Inggris mengatakan akan menghentikan impor minyak dan produk turunannya pada akhir tahun 2022.

Indeks saham utama Kanada turun karena investor mempertimbangkan kondisi krisis di Ukraina, dengan teknologi dan keuangan mendominasi sektor-sektor yang mengalami penurunan.

Indeks komposit S&P atau TSX Bursa Saham Toronto (.PTSE) berakhir turun 72,37 poin (0,3 persen) menjadi 21.232,03 poin, sehingga menambah kerugian perdagangan pada Selasa.

Penurunan pasar saham Toronto menguntungkan saham sektor sumber daya, termasuk kenaikan 0,9 persen pada sektor material, meliputi penambang logam mulia dan bahan dasar perusahaan pupuk.

Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 184,74 poin (0,56 persen) menjadi 32.632,64 poin, S&P 500 (.SPX) kehilangan 30,39 poin (0,72 persen) menjadi 4.170,7 poin. Sedangkan Nasdaq Composite (.IXIC) turun 35,41 poin (0,28 persen) menjadi 12.795,55 poin.

Sektor pertahanan mengalami penurunan terbesar, seperti saham kebutuhan pokok konsumen (.SPLRCS) turun 2,6 persen, layanan kesehatan (.SPXHC) turun 2,1 persen dan utilitas (.SPLRCU) turun 1,6 persen.

Sektor energi (.SPNY) melanjutkan kenaikan naik 1,4 persen. Dalam berita perusahaan, saham Caterpillar Inc (CAT.N) melonjak 6,8 persen setelah Jefferies meningkatkan saham menjadikan peralatan konstruksi sebagai perlindungan nilai terhadap inflasi, sehingga prospek investasi semakin banyak.

Emas naik 2,6 persen menjadi USD 2.049 per ounce, sementara minyak naik 3,6 persen menjadi USD 123,70 per barel.

Saham Intertape Polymer Group Inc (ITP.TO) melonjak 76,2 persen setelah perusahaan produk kemasan mengatakan diambil alih oleh perusahaan investasi Clearlake Capital Group dalam kesepakatan tunai senilai USD 2,6 miliar.

TERKONSOLIDASI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan bergerak terkonsolidasi pada perdagangan hari ini, Rabu (9/3). Pada perdagangan sebelumnya, Selasa (8/3), IHSG berakhir di zona merah atau ditutup turun 0.80 persen atau 54,88 poin ke level 6.814,18.

CEO Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya, mengatakan pergerakan indeks harga saham terlihat sedang bergerak fluktuatif dan menguji support level terdekat.

Kendati begitu, ia melihat masih tercatatnya capital inflow secara year to date (ytd) serta pasca rilis data perekonomian cadangan devisa masih menunjukkan bahwa fundamental perekonomian Indonesia berada dalam kondisi stabil.

“Fluktuasi nilai tukar rupiah serta harga komoditas juga akan turut mewarnai pergerakan IHSG hingga beberapa waktu mendatang, hari ini IHSG berpotensi terkonsolidasi,” kata William dalam analisisnya, Rabu (8/3).

Lebih lanjut, William memperkirakan IHSG hari ini berada di range 6.811 sampai 6.996. Sementara saham yang William rekomendasikan antara lain TBIG, SMGR, CTRA, TLKM, BBCA, INDF dan ASRI.

Sementara itu, Head of MNC Sekuritas Edwin Sebayang mengatakan jika pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini masih dipengaruhi oleh harga komoditas. Seperti komoditas minyak yang naik 3,83 persen, emas 2,83 persen dan nikel melonjak 61,23 persen.

“Jika kenaikan harga komoditas di atas dikombinasikan dengan naiknya EIDO sebesar 0,76 persen (padahal kemarin IHSG ditutup turun sebesar 0,80 persen) maka berpotensi menjadi katalis pendorong IHSG untuk rebound di hari Rabu ini,” kata Edwin.

Di sisi lain, Edwin melihat adanya tren penurunan indeks DJIA pada perdagangan Selasa kemarin sebesar 0,56 persen. Hal ini menurut Edwin juga akan memengaruhi pergerakan IHSG jika dikombinaskan dengan fluktuasi harga komoditas yang terjadi.

“Jika dikombinasikan dengan jatuhnya harga coal 2,15 persen, CPO 3,11 persen dan timah 1,69 persen di tengah kembali naiknya yield obligasi AS dan Indonesia tenor 10 tahun maka berpotensi menjadi pemberat untuk IHSG rebound dalam skala besar dalam perdagangan Rabu ini,” jelasnya. (*)

 

 

 

Leave a Comment