Wall Street ditutup anjlok pada perdagangan Selasa (7/7) akibat aksi profit taking dari para investor. Di sisi lain, membludaknya kasus baru coronavirus di Amerika Serikat juga menjadi sentimen negatif bagi pergerakan Wall Street.
Dikutip dari Reuters, Rabu (8/7), indeks Dow Jones Industrial Average .JJI turun 396,85 poin, atau 1,51 persen menjadi 25.890,18. Kemudian S&P 500 .SPX kehilangan 34,4 poin, atau 1,08 persen menjadi 3.145,32 dan Nasdaq Composite .IXIC turun 89,76 poin, atau 0,86 persen menjadi 10.343,89.
Sebagian besar negara bagian Amerika Serikat melaporkan puluhan ribu kasus baru virus corona.
“Ini sedikit kemunduran setelah langkah lima hari yang signifikan di pasar ditambah dengan kekhawatiran normal tentang virus dan (Presiden Cleveland Federal Reserve Bank Loretta) Mester berbicara tentang jalan panjang menuju pemulihan,” ujar Michael Antonelli, market strategist di Baird Milwaukee.
Dalam kesempatan sebelumnya, Mester mengatakan bahwa meningkatnya kasus coronavirus di seluruh negeri membuat konsumen menjadi lebih berhati-hati. Sebab akan lebih banyak stimulus fiskal yang diperlukan untuk membantu perekonomian pulih sepenuhnya dari krisis.
Wall Street sejatinya telah meningkat dalam beberapa hari belakangan. Indeks S&P 500 sempat mencatatkan penguatan selama lima kali berturut-turut karena serangkaian data yang cukup positif di bulan Juni, serta didukung prediksi bahwa pemulihan ekonomi sedang berlangsung.
Meski demikian indeks S&P 500 masih naik lebih dari 40 persen dibanding dengan penutupan terendah pada Maret lalu.
Walmart Inc (WMT.N) naik 6,8 persen sedangkan saham pesaingnya, Amazon tergelincir 1,3 persen. Novavax Inc (NVAX.O) melonjak 31,6 persen ketika pemerintah AS memberikan USD 1,6 miliar kepada perusahaan pembuat obat tersebut untuk melakukan pengujian, komersialisasi, dan pembuatan vaksin virus corona yang potensial bagi negara tersebut.
Volume perdagangan di Wall Street mencapai 10,44 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata perdagangan saham selama 20 hari terakhir sebanyak 12,58 miliar saham.