Imbas Invasi Rusia ke Ukraina, Wall Street Ditutup Anjlok

Pada perdagangan Selasa (1/3/2022), Wall Street berakhir melemah tajam. Pada pelemahan ini, karena krisis Rusia-Ukraina semakin dalam dan menimbulkan kecemasan di kalangan investor, saham sektor keuangan menanggung banyak kerugian dalam dua hari perdagangan berturut-turut.

Dikutip dari Reuters, Rabu (2/3), Dow Jones Industrial Average turun 1,76 persen menjadi berakhir pada 33.294,95 poin, sementara S&P 500 kehilangan 1,55 persen menjadi 4.306,24. Nasdaq Composite turun 1,59 persen menjadi 13.532,46. Sepuluh dari 11 indeks sektor S&P 500 turun, dipimpin oleh sektor keuangan yang turun 3,7 persen.

Kemarin, saham Wells Fargo (NYSE:WFC) jatuh 5,8 persen dan indeks bank yang lebih luas turun 4,8 persen karena imbal hasil Treasury AS 10-tahun merosot ke posisi terendah dalam lima minggu.

Namun di sisi lain, saham Chevron Corp melonjak 4 persen setelah perusahaan menaikkan buyback atau pembelian kembali sahamnya. Tidak hanya itu kenaikan pergerakan saham juga disebabkan harga minyak melonjak. Sementara itu, indeks energi naik sekitar 1 persen.

Rusia memperingatkan penduduk Kyiv untuk meninggalkan rumah mereka, menghujani kota Kharkiv, hingga mengintensifkan pemboman mereka di daerah perkotaan Ukraina. Konflik tersebut telah menarik pembalasan tajam dari Barat termasuk pemblokiran akses bagi Rusia ke sistem pembayaran internasional SWIFT.

Philadelphia Semiconductor Index turun 3,6 persen dengan Advanced Micro Devices jatuh 7,7 persen. Di sisi lain, data menunjukkan aktivitas manufaktur AS meningkat lebih dari yang diharapkan pada Februari karena infeksi COVID-19 mereda.

Saham Target Corp melonjak 9,9 persen setelah perusahaan ritel besar itu memperkirakan penjualan dan laba di sepanjang 2022 bakal berada atas ekspektasi analis.

Indeks volatilitas CBOE, juga dikenal sebagai pengukur ketakutan Wall Street, naik ke level tertinggi sejak 24 Februari.

Saham Zoom Video Communications (NASDAQ:ZM) Inc turun 7,4 persen setelah perseroan memperkirakan pendapatan dan laba tahun ini akan suram. Hal ini disebabkan adanya pukulan dari persaingan ketat sehingga angka pendaftaran akun baru ke platform rapat virtual tersebut menurun.

Perdagangan terpantau sibuk. Volume perdagangan di Wall Street mencapai 14,9 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata perdagangan saham selama 20 hari terakhir sebanyak 12,3 miliar saham.

MENGUAT

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menguat pada perdagangan hari ini, Rabu (2/3). Kemarin, Selasa (1/3), IHSG ditutup naik 33,27 poin (0,48 persen) ke posisi 6.921,441.

CEO Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya menyebut laju IHSG akan bergerak di level support 6.811 dan level tertinggi 6.996 di sepanjang perdagangan hari ini.

Ia mengatakan, pola gerak IHSG kembali berhasil mencetak rekor level tertinggi IHSG yang baru atau All Time High (ATH) dalam pencapaian.

“Secara intraday maupun penutupan juga berada dalam posisi ATH. selain itu masih tercatatnya capital inflow secara year to date (ytd) juga akan turut mewarnai pergerakan IHSG,” tulis William dalam risetnya, Rabu (2/3).

Apabila terjadi koreksi wajar momentum, tekanan masih bisa dimanfaatkan oleh investor baik jangka pendek, menengah maupun panjang. Koreksi tersebut terjadi karena pergerakan fluktuatif.

Sementara itu, menurut Head of Research MNC Sekuritas Edwin Sebayang, rencana kenaikan suku bunga AS (FFR) oleh The Fed mendorong turun cukup tajam Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) sebesar 1,76 persen.

“Naik tajam harga komoditas berpotensi menjadi katalis pendorong naik saham berbasis komoditas tersebut di tengah turunnya yield obligasi AS,” ujar Edwin.

Berikut beberapa saham unggulan yang direkomendasikan William, yaitu PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Astra International Tbk (ASII), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).

 

 

 

 

Leave a Comment