IHSG Selasa (24/2): Analis Prediksi Penguatan Menuju Level 8.500 di Tengah Sentimen Tarif Global

Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai analisis pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk perdagangan Selasa, 24 Februari 2026, berdasarkan data dan pandangan para analis:

Analisis Performa dan Prediksi Teknis IHSG

Pergerakan pasar modal Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik dengan optimisme yang cukup kuat di kalangan pelaku pasar. Berikut adalah rincian teknisnya:

  • Rekapitulasi Performa Sebelumnya: Pada penutupan perdagangan Senin (23/2), IHSG mencatatkan performa impresif dengan kenaikan sebesar 111,760 poin atau setara 1,35%. Hal ini membawa indeks parkir di level 8.383, yang menjadi fondasi kuat untuk pergerakan hari berikutnya.

  • Indikator MACD dan Volume: Analisis dari Phintraco Sekuritas menunjukkan bahwa histogram Moving Average Convergence Divergence (MACD) terus bergerak di zona positif. Penguatan ini divalidasi oleh adanya lonjakan volume beli, yang mengindikasikan bahwa akumulasi saham oleh investor masih masif.

  • Posisi Moving Average (MA): IHSG berhasil ditutup di atas garis MA20. Secara teknikal, posisi ini menandakan bahwa tren jangka pendek masih berada dalam fase bullish atau menguat.

  • Kewaspadaan Stochastic RSI: Meski tren menguat, indikator Stochastic Relative Strength Index (RSI) mulai menunjukkan perlambatan di area overbought (jenuh beli). Hal ini memberikan sinyal bahwa meskipun ada peluang kenaikan menuju target 8.450-8.500, risiko aksi ambil untung (profit taking) mulai membayangi.

  • Analisis Elliott Wave (MNC Sekuritas): Dari perspektif MNC Sekuritas, pergerakan indeks berada dalam skenario “Best Case” selama mampu bertahan di atas level 8.170. Jika level ini terjaga, IHSG diyakini sedang membentuk bagian dari wave (c) dari wave [x] dengan target penguatan hingga ke rentang 8.440-8.503. Namun, investor diminta waspada terhadap koreksi jangka pendek ke area 8.257-8.343.

Sentimen Global dan Kebijakan Perdagangan

Kondisi makroekonomi, khususnya kebijakan perdagangan Amerika Serikat, menjadi katalisator utama yang mempengaruhi psikologi investor domestik:

  • Pembatalan Tarif Resiprokal: Pasar merespons positif keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan pemberlakuan tarif resiprokal. Keputusan hukum ini memberikan sedikit nafas lega bagi negara-negara mitra dagang AS.

  • Ancaman Tarif Global Baru: Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan rencana pemberlakuan tarif global baru sebesar 15%. Meski terdengar menekan, angka ini secara paradoks dilihat sebagai “opsi yang lebih baik” dibandingkan ketidakpastian sebelumnya.

  • Harapan Perjanjian Dagang RI-AS: Investor sedang mencermati perkembangan perjanjian dagang yang diteken pada 19 Februari lalu. Terdapat harapan besar bahwa poin-poin dalam perjanjian tersebut—yang sebelumnya menetapkan tarif tinggi sebesar 19%—dapat dinegosiasikan ulang atau dibatalkan menyusul dinamika kebijakan di AS. Selisih tarif antara 15% (global) dan 19% (perjanjian spesifik) inilah yang memicu spekulasi positif bagi eksportir Indonesia.

Rekomendasi Saham Pilihan

Berdasarkan analisis sektor dan momentum pasar, berikut adalah saham-saham yang patut dicermati:

  • Pilihan Phintraco Sekuritas:

    • BBRI (Bank Rakyat Indonesia): Mewakili sektor perbankan yang biasanya menjadi penggerak indeks.

    • BRPT (Barito Pacific): Menarik untuk dicermati dari sisi sektor petrokimia dan energi.

    • UNVR (Unilever Indonesia): Saham defensive yang sering dilirik saat pasar mulai jenuh beli.

    • ESSA (ESSA Industries) & TINS (Timah): Terkait erat dengan harga komoditas global.

  • Pilihan MNC Sekuritas:

    • ADRO (Adaro Energy): Fokus pada sektor energi batubara yang masih memiliki arus kas kuat.

    • ASII (Astra International): Barometer konsumsi domestik dan industri otomotif.

    • EXCL (XL Axiata): Mewakili sektor telekomunikasi yang stabil.

    • GOTO (GoTo Gojek Tokopedia): Saham sektor teknologi yang memiliki volatilitas tinggi namun potensi rebound yang besar.

Leave a Comment