Inilah analisis pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa, 23 September 2025 :
1. Kondisi IHSG Sebelumnya
-
Pada Senin (22/9), IHSG ditutup melemah 11,08 poin (-0,14%) ke level 8.040,04.
-
Meskipun melemah, IHSG sempat menyentuh level intraday tertinggi 8.087.
-
Secara teknikal, Stochastic RSI berada di area overbought (jenuh beli) dan histogram MACD mulai mendatar, menandakan momentum beli mulai melemah.
-
Namun, IHSG masih bertahan di atas MA5 (moving average 5 hari), sehingga tren utamanya masih relatif terjaga.
2. Prediksi Pergerakan IHSG
-
Phintraco Sekuritas:
-
IHSG diperkirakan bergerak sideways di kisaran 8.000–8.100.
-
Artinya, pasar cenderung menunggu katalis baru, sehingga ruang kenaikan maupun penurunan masih terbatas.
-
Faktor domestik yang diperhatikan adalah rilis data M2 Money Supply Agustus 2025 (pertumbuhan jumlah uang beredar yang memengaruhi likuiditas pasar).
-
Dari global, investor menantikan data PMI Jerman, Inggris, dan AS, serta pidato Ketua The Fed Jerome Powell.
-
-
MNC Sekuritas:
-
Memproyeksi IHSG berpeluang menguat ke area 8.098–8.155.
-
Namun, ada skenario terburuk (worst case) IHSG bisa terkoreksi cukup dalam ke area 7.383–7.534 bila tekanan jual meningkat.
-
3. Faktor Eksternal yang Mempengaruhi
-
Jerman: HCOB Manufacturing PMI Flash diperkirakan naik ke 50 (ekspansi).
-
Inggris: Manufacturing PMI Flash diperkirakan tetap di 47 (kontraksi), sementara Services PMI Flash turun tipis ke 53,5 dari 54,2.
-
AS: S&P Global Manufacturing dan Services PMI diprediksi melambat.
-
The Fed: Pidato Jerome Powell bisa memberi petunjuk arah kebijakan suku bunga ke depan.
4. Saham Rekomendasi
-
Phintraco Sekuritas: MDKA, ARCI, WIFI, PSAB, SCMA.
-
MNC Sekuritas: ARCI, BRPT, BUVA, ENRG.
5. Kesimpulan
IHSG pada Selasa, 23 September 2025, diperkirakan:
-
Cenderung bergerak sideways di kisaran 8.000–8.100 (Phintraco).
-
Ada peluang penguatan terbatas menuju 8.098–8.155 (MNC).
-
Skenario terburuk bila tekanan global tinggi: koreksi ke area 7.383–7.534.
Pergerakan pasar akan sangat dipengaruhi oleh:
-
Rilis data ekonomi domestik (M2 Money Supply).
-
Data PMI global (Jerman, Inggris, AS).
-
Pidato Ketua The Fed yang bisa memberi sinyal arah kebijakan moneter.