Harga Minyak Melonjak dan Khawatir Kenaikan Inflasi, Wall Street Anjlok

Pada perdagangan Senin (7/3/2022), Wall Street ditutup tergelincir. Penurunan ini disebabkan adanya potensi larangan impor minyak Rusia, sehingga menyebabkan harga minyak mentah melonjak.

Kekhawatiran tentang kenaikan inflasi juga muncul seiring penurunan Wall Street. Dikutip dari Reuters, Selasa (8/3), Nasdaq menurun 20,1 persen sejak rekor penutupan tertinggi pada 19 November tahun lalu.

Dow Jones (.DJI) turun 797,42 poin (2,37 persen) menjadi 32.817,38. Sedangkan S&P 500 (.SPX) kehilangan 127,79 poin (2,95 persen) menjadi 4.201,08. Kemudian Nasdaq Composite (.IXIC) turun 482,48 poin (3,62 persen) menjadi 12.830,96.

Salah satu kelompok S&P 500 yang bertahan sepanjang tahun 2022 ini, yaitu saham energi (.SPNY), yang mencatat kenaikan sebesar 1,6 persen.

Posisi Amazon, Microsoft (MSFT.O), dan Apple (AAPL) berada di atas S&P. Sedangkan sektor keuangan (.SPSY) jatuh 3,7 persen. Sektor utilitas (.SPLRCU) berhasil bertahan di pasar saham, naik 1,3 persen.

Saham United Airlines Holding Inc turun 15 persen dan Norwegian Cruise Line Holdings (NCLH.N) turun 11,6 persen, karena ancaman lonjakan harga minyak mengganggu pemulihan yang baru mulai.

Kekhawatiran krisis Rusia-Ukraina dipicu oleh adanya potensi imbal hasil obligasi yang lebih tinggi. The Federal Reserve diperkirakan akan memperketat kebijakan moneter tahun ini untuk menghadapi inflasi.

The Fed juga diperkirakan menaikkan suku bunga akhir tahun ini untuk menghadapi lonjakan inflasi.

Sekitar 17 miliar saham berpindah di bursa Amerika Serikat, dibandingkan dengan rata-rata harian sekitar 13 miliar selama 20 sesi perdagangan terakhir.

DIPREDIKSI TERTEKAN

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan tertekan pada perdagangan hari ini, Selasa (8/3). Pada Senin kemarin, IHSG berakhir di zona merah ditutup turun 0,86 persen atau 59.26 poin ke level 6.869,07.

CEO Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya, mengatakan pergerakan indeks harga saham tertekan akibat dari konflik negara-negara global yang berdampak pada market.

“Perkembangan pergerakan IHSG saat ini terlihat sedang berada dalam tekanan, kondisi yang memanas antar negara global memberikan dampak terhadap market global sehingga menjadikan sentimen negatif yang berimbas pada kondisi market dalam negeri pada hari kemarin,” ujar William dalam analisisnya, Selasa (8/3).

Namun, William memprediksi capital flow yang masih terus terjadi secara year to date (ytd) ditambah rilis data perekonomian cadangan devisa yang cukup stabil, dapat memberikan sentimen positif terhadap pola gerak IHSG hingga beberapa waktu mendatang.

William memperkirakan IHSG hari ini berada di range 6.811-6.996. Sementara saham yang direkomendasikan William antara lain TLKM, ASII, GGRM, LSIP, CTRA, AKRA dan KLBF.

Sementara itu, Head of MNC Sekuritas Edwin Sebayang juga memprediksi pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini akan tertekan. Namun, dia melihat saham berbasis komoditas akan melambung seiring kenaikan harga komoditas tersebut.

Seperti misalnya minyak yang naik 4,37 persen, batu bara naik 6,87 persen, emas naik 1,38 persen, crude palm oil (CPO) naik 6,22 persen dan timah naik 2,43 persen, serta nikel yang naik super tajam sebesar 67,22 persen.

“Sehingga (kenaikan ini) menjadi bumper alias penahan IHSG turun tidak tajam dalam perdagangan Selasa ini menyusul cukup tajamnya kejatuhan Indeks DJIA sebesar 2,37 persen akibat kekhawatiran berlanjutnya Perang Rusia vs Ukraina,” jelas Edwin.

 

 

Leave a Comment