Ekonomi AS Tumbuh Lebih Cepat di Q4-2024, Wall Street Ditutup Menguat

Pada perdagangan Kamis, 25 Januari 2024, indeks utama saham Amerika Serikat (AS) alias Wall Street ditutup menguat. Dengan S&P 500 yang mencapai rekor tertinggi sepanjang masa.

Kenaikan S&P 500 ditopang oleh optimisme investor terhadap perekonomian dan suku bunga yang lebih rendah, serta kepercayaan pada kecerdasan buatan.

Mengutip Reuters, Jumat (26/1), S&P 500 naik 0,53 persen mengakhiri sesi di 4.894,16 poin. Nasdaq menguat 0,18 persen menjadi 15.510,50 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average menguat 0,64 persen menjadi 38.049,13 poin.

Adapun, perekonomian AS tumbuh lebih cepat dari perkiraan pada kuartal IV-2023 di tengah kuatnya belanja konsumen. Hal itu telah mengacaukan prediksi resesi setelah Federal Reserve (The Fed) secara agresif menaikkan suku bunga, dengan pertumbuhan setahun penuh sebesar 2,5 persen.

“PDB merupakan kejutan yang baik bagi pasar karena tidak ada inflasi yang bermasalah, dan konsumen terus membelanjakan uangnya,” kata Direktur Strategi Investasi US Bank Asset, Rob Haworth.

“Jadi ada lebih banyak dukungan terhadap narasi bahwa pendapatan perusahaan dan pertumbuhan penjualan harus lebih baik seiring kita melangkah maju.”

Di sisi lain, AS mencatat data pengangguran per 20 Januari 2024 naik menjadi 214.000. Angka itu lebih tinggi dari perkiraan awal 200.000.

Berdasarkan data LSEG, sebanyak 82 persen perusahaan S&P 500 yang sudah melaporkan pendapatan membukukan pendapatan yang fantastis dan melampaui ekspektasi pasar.

“Hasil kuartalan minggu depan dari Apple (AAPL.O), Microsoft (MSFT.O), Amazon (AMZN.O), Alfabet (GOOGL.O), dan Platform Meta (META.O) akan memberi investor gambaran sekilas apakah valuasi tinggi perusahaan-perusahaan kelas berat tersebut dapat dibenarkan menyusul lonjakan saham mereka sejak Wall Street mencapai titik terendah pada tahun 2022,” tulis laporan itu.

DIPREDIKSI DATAR

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi mengalami sideways alias datar pada perdagangan Jumat (26/1). Dalam perdagangan Kamis (25/1) IHSG menguat 18,07 poin (0,25 persen) ke 7.245,89.

Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan mengatakan IHSG diperkirakan masih sideways di kisaran 7.200 di akhir pekan ini (26/1). Stochastic RSI bergerak turun dengan validasi death cross pada MACD.

“Akan tetapi, volume transaksi kembali turun. Dengan demikian, belum ada validasi minor bearish reversal dari pola pergerakan IHSG saat ini,” kata Valdy dalam prediksinya, dikutip Jumat (26/1).

Valdy menilai pergerakan IHSG tersebut dipengaruhi oleh berlanjutnya pelemahan nilai tukar Rupiah ke Rp 15.820 di Kamis (25/1) sore.

Pelemahan tersebut sejalan dengan perubahan pandangan pasar terhadap peluang pemangkasan suku bunga the Fed di Maret 2023. Pasar kembali ke keyakinan di akhir tahun lalu di mana pemangkasan suku bunga acuan pertama oleh The Fed diperkirakan paling cepat terjadi di 1 Mei 2024.

Akan tetapi, saham-saham energy dan basic materials menunjukkan pergerakan menyusul keputusan People’s Bank of China (PBOC) untuk memperbolehkan bank menyimpan reserves yang lebih kecil (stimulus moneter) mulai 5 Februari 2024.

“Top picks di Jumat (26/1) meliputi PTBA, ITMG, PGAS, MEDC dan ELSA,” ungkapnya.

Sementara itu, Analis Bina Artha Sekuritas, Ivan Rosanova memproyeksi IHSG berada di level support 7.111, 7.021 dan 6.931. Sementara level resistennya di 7.300, 7.422 dan 7.503.

“Berdasarkan indikator MACD menandakan momentum bearish,” kata Ivan.

Saham yang direkomendasikan Ivan adalah HRUM, INCO, INDF, GOTO, ADRO, ASII, UNVR, dan TKIM.

 

Leave a Comment