Dolar AS menyentuh level tertinggi dua pekan, di sesi perdagangan Rabu sore ini. Selentingan soal kemungkinan kenaikan suku bunga yang dilontarkan oleh Menteri Keuangan AS Janet Yellen kemarin malam, menimbulkan aksi penghindaran risiko. Mata uang safe haven seperti Dolar AS pun menguat, sedangkan saham-saham teknologi memerah.
Indeks Dolar, yang mengukur kekuatan Dolar AS versus mata uang-mata uang lain, naik ke 91.4, tertinggi sejak tanggal 19 April. Sedangkan Euro, tertekan kembali ke bawah $1.20. EUR/USD terpantau telah menembus level support penting di kisaran $1.1995 sehingga turun ke level rendah dua pekan di $1.9942.

Pasar Tanggapi Serius Komentar Yellen Soal Kenaikan Suku Bunga
Kemarin malam, Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan bahwa suku bunga mungkin perlu dinaikkan guna mencegah perekonomian agar tak mengalami overheating. Hal itu mengingat bahwa saat ini pemerintahan Joe Biden sedang gencar mengusulkan investasi-investasi besar untuk membangun kembali infrastruktur negara dan memperkuat sektor ketenagakerjaan.
“Mungkin suku bunga memang perlu dinaikkan sedikit untuk memastikan bahwa ekonomi tidak overheat,” kata Yellen dalam acara seminar ekonomi yang dihelat oleh The Atlantic, Selasa (04/Mei) malam. “Walaupun pengeluaran tambahan relatif kecil jika dibandingkan dengan ukuran perekonomian, tetapi itu dapat menyebabkan suatu kenaikan suku bunga dalam tingkat yang sangat kecil.”
Belakangan kemudian, Yellen mengesampingkan urgensi kenaikan suku bunga AS saat ini. Namun, pasar sudah terlanjur menganggapi serius kalimatnya di awal. Sedikit penyebutan pengetatan moneter AS sekarang ini agaknya memberikan dampak yang sangat besar di pasar yang sedang sangat bergantung pada stimulus moneter.
Saham-saham saham teknologi yang mengalami tekanan besar tadi malam, menyeret turun Nasdaq ke sebanyak 1.88%. Sedangkan Dolar AS menguat danb menekan harga emas.
“Pasar sepertinya tergoda untuk melakukan suatu aksi ‘yellen and screaming‘ setelah event tadi malam, menyusul komentar hawkish yang jelas dari Menteri Keuangan AS meskipun kemudian mundur,” kata Valentin Marinov, kepala riset G10 FX di Credit Agricole.
“Semua yang dikatakan, komentar tersebut menyoroti bahwa sekarang ada perdebatan yang sedang berlangsung di antara para pejabat AS tentang perlunya mengekang stimulus moneter ultra-agresif Fed.”
Tagged With : EUR/USD