Didongkrak Kenaikan Harga Saham Apple dan Amazon, Wall Street Melesat

Ketiga indeks utama Wall Street kompak melesat pada penutupan akhir pekan lalu. S&P 500 dan Nasdaq bahkan mencetak rekor tertinggi, salah satunya didorong oleh data-data ekonomi AS yang menunjukkan perbaikan.

Dilansir Reuters, Senin (24/8), Dow Jones Industrial Average naik 191,05 poin atau 0,69 persen menjadi 27.930,78, indeks S&P 500 naik 11,73 poin atau 0,35 persen menjadi 3.397,24, dan Nasdaq bertambah 46,85 poin atau 0,42 persen menjadi 11.311,80.

Aktivitas bisnis AS pada Agustus 2020 kembali ke level tertinggi sejak awal tahun lalu, menurut survei IHS Markit. Ini karena perusahaan di sektor manufaktur dan jasa mulai kebanjiran pesanan baru.

Laporan lain menunjukkan penjualan rumah AS naik pada dua bulan terakhir. Bahkan pada Juli 2020, harga rumah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa.

Kenaikan tajam yang tidak terduga dalam indeks Markit memperpanjang pola data ekonomi AS yang penuh ketidakpastian di minggu ini. Termasuk klaim pengangguran mingguan, yang menggambarkan kekhawatiran pemulihan resesi akan lebih lama akibat pandemi COVID-19.

“Tidak mengherankan melihat peningkatan di bidang manufaktur ketika ekonomi mulai dibuka kembali. Ini adalah tanda yang menggembirakan dan mendukung sisi permintaan,” kata Lindsey Bell, kepala strategi investasi di Ally Invest.

Perusahaan yang berfokus pada teknologi, termasuk Apple Inc (AAPL.O) dan Amazon.com (AMZN.O), lebih kuat dari pandemi dan telah membawa S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor mingguan tertinggi.

Apple Inc (AAPL.O) naik 4 persen karena nilai pasarnya terus meroket, setelah perusahaan publik paling berharga di dunia ini melewati nilai kapitalisasi USD 2 triliun.

Tesla (TSLA.O) melonjak lagi setelah melonjak melewati angka USD 2.000 per saham untuk pertama kalinya, memperpanjang kenaikan menjelang pembagian dividen.

Meski demikian, investor juga khawatir tentang kebuntuan dalam pembicaraan antara parlemen dan pemerintah AS, yakni mengenai tagihan bantuan virus corona berikutnya karena sekitar 28 juta orang AS terus menyerahkan cek pengangguran.

 

Leave a Comment