PADA perdagangan Jumat (22/10/2021), indeks utama Wall Street, S&P 500 dan Nasdaq ditutup melemah. Laporan kuartalan yang mengecewakan dari Snap Inc (SNAP.N) dan Intel Corp (INTC.O) sehingga memberi tekanan pada sektor komunikasi dan teknologi itu yang menyebabkan penurunan. Di sisi lain The Fed yang kembali membahas soal tapering membuat investor gelisah.
Dikutip dari Reuters, Senin (25/10), Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 73,94 poin, atau 0,21 persen menjadi 35.677,02. Sedangkan S&P 500 (.SPX) kehilangan 4,88 poin, atau 0,11 persen menjadi 4.544,9 dan Nasdaq Composite (.IXIC) turun 125,50 poin, atau 0,82 persen menjadi 15.090,20.
Indeks Dow terpantau berhasil mengakhiri pergerakan dengan rekor penutupan tertinggi untuk pertama kalinya sejak 16 Agustus.
Adapun Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell mengatakan bank sentral AS tengah berencana mengurangi pembelian asetnya.
Saham Snap turun lebih dari 25 persen karena kinerja keuangan perseroan yang melemah. Sementara itu saham Facebook Inc (FB.O) dan Twitter Inc (TWTR.N) ditutup turun sekitar 5 persen. Akibatnya, sektor layanan komunikasi S&P (.SPLRCL) menjadi hambatan terbesar pada indeks benchmark.
Selain itu, saham Intel jatuh hampir 12 persen setelah kinerja penjualan produsen chip komputer tersebut meleset dari ekspektasi kuartal ketiga.
Adapun ketiga indeks utama Wall Street mencatat kenaikan dalam tiga pekan berturut-turut untuk pertama kalinya sejak awal Juli. Indeks S&P menambahkan 1,6 persen untuk minggu ini sementara Dow naik 1,1 persen dan Nasdaq naik 1,3 persen.
Di antara sektor utama S&P, consumer discretionary (.SPLRCD) menjadi hambatan karena Amazon.com Inc (AMZN.O) jatuh dan Intel turut menekan indeks teknologi (.SPLRCT).
Namun, sektor keuangan (.SPSY) terbantu oleh saham American Express Co (AXP.N), yang naik 5,4 persen setelah mengalahkan perkiraan laba untuk empat kuartal berturut-turut.
Data menunjukkan aktivitas bisnis A.S. meningkat pada Oktober, karena infeksi COVID-19 mereda, meskipun kekurangan tenaga kerja dan bahan baku masih menghambat sektor manufaktur.
Volume perdagangan di Wall Street mencapai 11,03 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata perdagangan saham selama 20 hari terakhir sebanyak 10,38 miliar saham.
BERGERAK TERBATAS
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak terbatas hari ini. CEO Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan laju IHSG akan bergerak di level support 6.472 dan level tertinggi 6.691 sepanjang perdagangan hari ini. Pekan lalu, Jumat (22/10), IHSG ditutup menguat di level 6.643,73 atau naik 0,16 persen.
“Perkembangan pergerakan IHSG terlihat masih betah bergerak dalam rentang yang cukup terbatas,” tulis William dalam risetnya, Senin (25/10).
Meski demikian menurut William, IHSG masih memiliki potensi penguatan yang cukup besar. Hal ini didorong oleh capital inflow yang mulai kembali masuk ke dalam pasar modal Indonesia secara signifikan.
Namun, fluktuasi harga komoditas masih akan memberikan sentimen bagi pergerakan IHSG hingga beberapa waktu mendatang. “Sehingga jika terjadi koreksi wajar para investor masih dapat memanfaatkan momentum untuk melakukan akumulasi pembelian dengan target jangka pendek,” ujarnya.
Berikut beberapa saham unggulan yang direkomendasikan William: PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Astra Internasional Tbk (ASII), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). (*)