Di tengah lonjakan inflasi di Amerika Serikat, Wall Street menguat. Inflasi di AS secara tahunan mencapai 6,2 persen, tertinggi dalam 30 tahun terakhir. Padahal, momok inflasi tinggi, suku bunga dan imbal hasil obligasi, biasanya menimbulkan masalah bagi saham. Namun tidak kali ini, bursa saham AS malah terus naik.
Seperti penutupan perdagangan Jumat pekan lalu, Wall Street kompak menguat. Dikutip dari Reuters, Senin (14/11) Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 160,78 poin, atau 0,45 persen menjadi 36.082,01; S&P 500 (.SPX) naik 30,62 poin, atau 0,66 persen pada 4.679,89; dan Nasdaq Composite (.IXIC) menambahkan 140,70 poin, atau 0,9 persen pada 15.844,98.
Di antara 11 sektor utama S&P 500, sektor layanan komunikasi (.SPLRCL) memimpin kenaikan, sementara sektor energi (.SPNY) mengalami penurunan persentase terbesar.
Meskipun menguat signifikan, ketiga indeks saham utama Wall Street melemah dibandingkan penutupan pada Jumat pekan sebelumnya. Capaian ini mengakhiri kenaikan mingguan kelima kali berturut-turut.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan saat ini terdapat banyak lowongan pekerjaan. Jumlahnya bahkan tidak bergerak dari rekor tertinggi meskipun ada banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan.
Di sisi lain, kondisi konsumsi rumah tangga yang melemah juga mulai membuat para peritel khawatir. Sebab liburan akhir tahun yang menjadi musim belanja paling penting semakin dekat sementara tingkat konsumsi belum membaik.
Sejumlah emiten peritel seperti Walmart Inc (WMT.N), Target Corp (TGT.N), Home Depot Inc (HD.N), dan Macy’s Inc (M.N) akan melaporkan kinerja keuangan mereka mulai pekan ini. Pelaporan tersebut akan musim pendapatan kuartal ketiga yang sebagian besar menunjukkan hasil yang positif.
Per Jumat lalu, sebanyak 459 perusahaan di S&P 500 telah melaporkan kinerja keuangan mereka. Dari jumlah tersebut, 80 persen menghasilkan pendapatan di atas prediksi konsensus.
Saham Johnson & Johnson (JNJ.N) naik 1,3 persen di tengah berita bahwa raksasa perawatan kesehatan tersebut akan terbagi menjadi dua perusahaan. Perseroan dikabarkan akan memisahkan segmen perawatan kesehatan konsumennya dari bisnis farmasi/perangkat medis.
Sementara itu saham Tesla Inc (TSLA.O) turun 3,6 persen di tengah berita Elon Musk telah menjual saham tambahan USD 700 juta. Sementara itu produsen mobil listrik saingan Tesla, Rivian Automotive Inc (RIVN.O), naik 3,3 persen. Sedangkan saham Alibaba Group Holding yang terdaftar di AS tergelincir 1,1 persen.
KONSOLIDASI WAJAR
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi kembali pada rentang konsolidasi wajar hari ini, Senin (15/11). Pada perdagangan Jumat (12/11), IHSG berakhir di zona merah atau ditutup turun 40,288 poin (0,40 persen) ke posisi 6.651.054.
EO Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya, mengatakan indeks saham diprediksi kembali ke rentang konsolidasi wajar setelah mencatatkan all time high (ATH) secara harian atau intraday. Dia memprediksi IHSG bergerak di rentang 6.589 hingga 6.713.
“Hingga saat ini keseriusan kenaikan IHSG belum nampak dikarenakan IHSG belum mampu ditutup di atas ATH secara beruntun,” ujar William dalam risetnya, Senin (15/11).
“Sedangkan potensi adanya pembalikan arah masih cukup besar dikarenakan harga komoditas yang sudah mengalami kenaikan cukup tinggi dan harus diwaspadai oleh para investor,” lanjutnya.
Dengan begitu, kata dia, jika terjadi koreksi wajar momentum masih dapat dimanfaatkan oleh para investor untuk melakukan akumulasi pembelian dengan target jangka pendek.
Beberapa saham rekomendasi William:
JSMR
GGRM
TBIG
ICBP
ASII
AKRA
ERAA.