Data Tenaga Kerja AS Mengecewakan, Wall Street Lesu

XM broker promo bonus

Pada penutupan perdagangan Jumat (8/10/2021), indeks utama Wall Street ditutup melemah. Angka pertumbuhan tenaga kerja di AS pada Oktober yang ternyata lebih rendah dibanding bulan sebelumnya menjadi penyebab Wall Street lesu.

Di sisi lain, investor masih menunggu keputusan Federal Reserve untuk mulai mengurangi pembelian aset tahun ini.

Tiga indeks utama Wall Street bergerak bervariasi untuk sebagian besar sesi, sebelum akhirnya melemah menjelang penutupan. Meski demikian ketiga indeks membukukan kenaikan mingguan.

Dikutip dari Reuters, Senin (11/10), Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 0,03 persen menjadi berakhir pada 34.746,25 poin, sedangkan S&P 500 (.SPX) turun 0,19 persen menjadi 4.391,35. Nasdaq Composite (.IXIC) turun 0,51 persen menjadi 14.579,54.

Sepanjang pekan S&P 500 naik 0,8 persen, Dow bertambah 1,2 persen dan Nasdaq naik 0,1 persen.

Saham Comcast Corp (CMCSA.O) jatuh setelah Wells Fargo memangkas target harga pada perusahaan media. Sedangkan saham Charter Communications Inc (CHTR.O) melemah setelah Wells Fargo menyatakan bahwa operator tersebut menjadi underweight dari overweight. Kedua perusahaan termasuk hambatan terbesar di S&P 500 dan Nasdaq.

Sementara itu, subsektor Real estate (.SPLRCR) dan utilitas (.SPLRCU) menjadi subsektor yang berkinerja paling buruk di antara 11 indeks sektor S&P 500, masing-masing turun 1,1 persen dan 0,7 persen.

Indeks sektor energi S&P 500 (.SPNY) melonjak 3,1 persen dengan minyak naik lebih dari 4 persen pada minggu ini karena krisis energi global telah mendorong harga ke level tertinggi sejak 2014.

Saham Chevron (CVX.N) dan Exxon Mobil (XOM.N) menguat lebih dari 2 persen dan termasuk di antara perusahaan yang memberikan kenaikan terbesar pada S&P 500.

Laporan nonfarm payrolls Departemen Tenaga Kerja menunjukkan ekonomi AS pada bulan September menciptakan lapangan kerja paling sedikit dalam sembilan bulan.

Baca Juga:   Bagaimana Cara Membeli Saham Lewat Online

Sementara tingkat pengangguran turun menjadi 4,8 persen dari 5,2 persen pada Agustus. Sedangkan pendapatan rata-rata per jam naik 0,6 persen lebih dari yang diharapkan.

Musim pelaporan kuartal ketiga akan dimulai minggu depan. JPMorgan Chase (JPM.N) dan bank-bank besar lainnya akan menjadi emiten pertama yang merilis kinerja kuartalan.

Volume perdagangan di Wall Street mencapai 9,2 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata perdagangan saham selama 20 hari terakhir sebanyak 11 miliar saham.

DIPREDIKSI MENGUAT

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat hari ini. CEO Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan laju IHSG akan bergerak di level support 6.336 dan level tertinggi 6.542 di sepanjang perdagangan saham hari ini. Pekan lalu, Jumat (8/10), IHSG ditutup menguat ke level 6.481,77 atau naik 1,02 persen.

“Kenaikan indeks menyambut rilis data kuartal ketiga dan merespons kinerja emiten semester I terlihat cukup serius,” tulis William dalam risetnya, Senin (11/10).

Selain itu, ditambah juga capital inflow yang kembali terjadi, meski belum secara signifikan sebab kondisi perekonomian secara global dan regional masih berjalan cukup lambat.

William mengatakan hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi IHSG. Di sisi lain harga komoditas terutama batubara yang naik tinggi memiliki potensi besar untuk berbalik arah sehingga dapat memberikan dampak terhadap emiten-emiten terkait.

“Hal tersebut juga akan memberikan dampak terhadap pergerakan IHSG dalam beberapa waktu mendatang,” ujarnya.

Berikut beberapa saham unggulan yang direkomendasikan William: PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Astra Internasional Tbk (ASII), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA).

Baca Juga:   Bank Sentral Eropa Lanjutkan Stimulus, Wall Street Langsung Melesat

 

Leave a Comment