Pada perdagangan Kamis (10/8/2023), indeks utama saham Amerika Serikat (AS) alias Wall Street ditutup naik tipis. Hal itu ditopang oleh data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan.
Mengutip Reuters, Jumat (11/8) Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 0,15 persen menjadi 35.176,15, S&P 500 (.SPX) naik 0,03 persen menjadi 4.468,83 dan Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 0,12 persen menjadi 13.737,99.
“Data menunjukkan harga konsumen utama dan inti sama-sama naik 0,2 persen pada bulan Juli, dengan angka utama mencatat kenaikan tahunan sebesar 3,2 persen dan inti naik 4,7 persen,” tulis laporan tersebut.
Angka tersebut masih jauh di atas target bank sentral, The Fed, sebesar 2 persen dan inflasi utama yang berada di atas tingkat tahunan 3 persen.
Meski begitu, para pedagang bertaruh The Fed akan menghentikan pengetatan moneter lebih lanjut pada tahun 2023 dan mulai memangkas suku bunga di awal tahun depan.
“Orang-orang melihat angka utama terlebih dahulu dan kami mengalami kenaikan besar, tetapi seiring berjalannya waktu, reli memudar dan itu mungkin reaksi yang tepat,” kata CEO Investment Partners Asset Management, Gregg Abella.
Kenaikan lebih lanjut dalam mega caps ini juga telah dibatasi oleh pergerakan naik pada Treasuries AS 10 tahun. Hasil pada catatan benchmark kembali di atas 4 persen pada hari Kamis setelah lelang kertas 30 tahun yang lemah.
ALAMI TEKANAN
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi mengalami tekanan pada perdagangan hari ini, Jumat (11/8). Pada penutupan perdagangan Kamis (10/8), IHSG ditutup menguat 18,17 poin atau 0,26 persen ke posisi 6.893,28.
Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, mengungkapkan IHSG diperkirakan masih terkonsolidasi di level 6.880 di Jumat (11/8).
Dari eksternal, indeks dalam negeri dipengaruhi oleh data inflasi per Juli 2023 yang menunjukkan level 3,2 persen dan inflasi inti naik 4,7 persen secara tahunan.
Tingkat inflasi tersebut relatif jauh dai target The Fed yang sebesar 2 persen. Sehingga kondisi ini diyakini memperkuat rencana The Fed untuk mulai mempertahankan suku bunga acuan di 5,75 persen mulai FOMC September 2023.
“Masih dari eksternal, ekonomi Inggris diperkirakan tumbuh 0,5 persen yoy di Juni 2023, kembali ke zona positif setelah sempat mengalami kontraksi 0.4 persen yoy di Mei 2023,” ungkap Alrich dalam risetnya yang dikutip, Jumat (11/8).
Sentimen beragam eksternal di atas berkebalikan dengan sejumlah data ekonomi domestik terbaru yang relatif solid. Kondisi ini diyakini menjaga momentum bullish reversal IHSG.
Sementara itu, CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Surya mengatakan, IHSG akan bergerak dalam rentang 6.821 – 6.954. Menurut dia, pola dan pergerakan IHSG saat ini masih berada dalam fase konsolidasi wajar dengan peluang tekanan minor yang masih terlihat akan terjadi dalam beberapa waktu mendatang.
“Sedangkan rilis data laporan kinerja emiten yang cenderung membaik menjadi salah satu faktor penopang IHSG, hari ini IHSG berpotensi tertekan,” kata William dalam prediksinya, Jumat (11/8).
Saham yang direkomendasikan William adalah SMRA, TLKM, BBCA, BBNI, KLBF, PWON, ASRI, JSMR, UNVR.
Saham yang direkomendasikan Alrich INDF, ICBP, MAPI, AMRT, ESSA, TOWR dan SCMA. (*)