Kebanyakan investor mencari saham yang berharga murah untuk dikoleksi. Namun, pernahkah berpikir tentang saham apa yang paling mahal di Indonesia? Saham paling mahal biasanya memiliki prestise yang tinggi, sekaligus telah memberikan cuan yang besar bagi mereka yang telah lama memilikinya –tapi, benarkah demikian?

Saham paling mahal di Bursa Efek Indonesia memiliki label harga lebih dari Rp30 ribu per lembar. Berikut ini sepuluh saham paling mahal di Indonesia beserta harganya per tanggal 15 Oktober 2022:
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) – Rp72.325
- PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) – Rp42.125
- PT DCI Indonesia Tbk (DCII) – Rp36.975
- PT United Tractors Tbk (UNTR) – Rp33.750
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) – Rp38.850
- PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) – Rp38.675
- PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI) – Rp22.800
- PT Gudang Garam Tbk (GGRM) – Rp22.300
- PT Indointernet Tbk (EDGE) – Rp19.500
- PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD) – Rp14.525
Harga saham lazimnya meningkat seiring dengan kinerja perusahaan, sehingga harga saham paling mahal pun semestinya memiliki kinerja yang cukup baik. Namun, pengamatan atas saham-saham di atas akan mengungkap satu fakta mengejutkan: tak semuanya memiliki kinerja dan fundamental yang baik.
Mayoritas saham berharga mahal memang menjadi primadona, seperti ITMG, DCII, dan UNTR. Tapi tak sedikit pula yang harga mahalnya itu justru “overpriced“. Mari menilik beberapa contoh yang paling mencolok.
Harga saham GGRM merosot secara konsisten sejak tahun 2019 hingga mencapai level saat ini. Meski sekarang mahal, tetapi harganya dulu jauh lebih mahal lagi. Masalahnya, bisnis rokok tergolong sunset industry yang memiliki masa depan lebih suram daripada sekarang. Upaya GGRM untuk merambah bisnis lain juga belum menampakkan hasil yang signifikan, karena kontribusi pendapatan paling besar masih bersumber dari rokok.
Harga saham GMTD bahkan dapat dikatakan sangat “overpriced“. Pasalnya, GMTD menyandang status dalam pemantauan khusus BEI sejak 31 Mei 2022. Emiten asal Makassar ini juga sudah empat tahun tak membagi dividen lantaran tekor.
Saham-saham mahal yang punya fundamental bagus pun belum tentu bebas masalah. Contohnya BYAN. Perdagangan saham BYAN makin lama makin sepi, karena harganya yang terlalu mahal bagi mayoritas investor. Pemilik saham BYAN lebih sukar menjual holding-nya, sedangkan para peminat saham juga harus merogoh kocek lebih dalam agar dapat membelinya. Akhirnya, emiten kemarin mengumumkan rencana untuk stock split 1:10.
Stock split adalah aksi korporasi yang ditujukan untuk memecah harga saham tanpa mengubah proporsi kepemilikan saham investor. Stock split akan meningkatkan jumlah saham beredar dan menurunkan nominal harga saham, sehingga lebih banyak investor dapat membelinya.
Banyak contoh saham yang melaksanakan stock split karena harganya terlalu mahal, bukan hanya BYAN. Hal ini merupakan kabar baik bagi investor, karena investor perlu mempertimbangkan harga dan likuiditas saham beserta analisis fundamental dan teknikal dalam merancang portofolio yang ideal.
Tagged With : investasi • saham