Dolar Australia terhadap Dolar AS anjlok di sesi perdagangan Senin siang. Eskalasi krisis Rusia-Ukraina mendepresiasi kurs mata uang komoditas terhadap Dolar AS, dan menutupi penguatan data ekonomi Australia.
AUD/USD turun 0.6% ke 0.7185. Padahal di sesi perdagangan Jumat lalu, AUD/USD sempat menlonjak ke 0.7237. Menurut analis Reuters, titik support Aussi berada pada $0.7150 dan $0.7095. Sedangkan resisten berada di $0.7235 dan $0.7284.

Kenaikan harga komoditas mendukung Dolar Australia pekan lalu, mengingat peran Australia sebagai eksporter energi, meskipun rekor harga bensin di dalam negeri akan bertindak sebagai pajak pada konsumen dan menambah kekhawatiran inflasi.
“AUD masih nyaman di dalam kisaran $0,696–$0,7314 year-to-date,” kata Ray Attrill, Kepala strategi FX di NAB. “Meskipun menurut kami hal ini akan terus menjadi katalis di minggu-minggu mendatang, kami harus mengakui peningkatan risiko penurunan jangka pendek terjadi sebagai konsekuensi dari konflik geopolitik Rusia-Ukraina.”
Sejumlah negara maju melancarkan protes terhadap Rusia dengan cara menjatuhkan sanksi ekonomi. Eropa dan Kanada menutup jalur udara dan penerbangan dari dan menuju Rusia, walaupun Rusia langsung membalasnya dengan melarang pesawat komersil Eropa melintasi wilayah udara Rusia.
Presiden Rusia, Vladimir Putin juga mengirim pasukan militer nuklir dalam rezim tugas tempur khusus. pada hari Minggu kemarin. putin mengatakan kepada para pejabatnya bahwa NATO telah membuat pernyataan agresif dan menjatuhkan sanksi keuangan yang cukup keras terhadap Rusia. Kendati demikian, Ukraina telah setuju untuk melangsungkan pembicaraan dengan Rusia di perbatasan Ukraina.
Retail Sales Australia Naik
Di sisi lain, kenaikan Retail Sales Australia rupanya tak mampu membantu mengerek Aussie hari ini. Masyarakat Australia mulai berani berbelanja setelah restriksi sosial akibat COVID19 dilonggarkan.
Menurut badan statistik Australia, Penjualan ritel melonjak 1.8% pada Januari menjadi A32,5 miliar ($23,3 miliar), dibandingkan dengan perkiraan kenaikan hanya 0.3%. Penjualan di seluruh negara bagian dan teritori Australia semuanya naik, dipimpin oleh lonjakan 4,7% di Australia Barat.
“Munculnya varian omicron dan meningkatnya jumlah kasus Covid-19, dikombinasikan dengan tidak adanya penguncian yang diamanatkan telah menghasilkan berbagai perilaku konsumen yang berbeda,” kata Ben James, Director of Quarterly Economy Wide Statistics yang dikutip oleh Bloomberg.