AS Naikkan Target Ekonomi, Wall Street Bervariasi

Pada perdagangan Rabu (29/11/2923), indeks utama saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup melemah. Pasalnya, revisi pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) yang kuat meredakan ketakutan resesi, sementara pernyataan petinggi The Fed menimbulkan pertanyaan tentang durasi kebijakan restriktif bank sentral.

Mengutip Reuters, Kamis (30/1), Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 13,44 poin atau 0,04 persen menjadi 35.430,42; S&P 500 (.SPX) turun 4,31 poin atau 0,09 persen menjadi 4.550,58; dan Nasdaq Composite (.IXIC) turun 23,27 poin atau 0,16 persen menjadi 14.258,49.

Nasdaq dengan S&P 500 sama-sama mengalami pelemahan, sementara Dow berakhir dengan penguatan, karena investor memilih menunggu jelang laporan inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) pada hari ini, Kamis (30/11).

Departemen Perdagangan merevisi naik estimasi awal pertumbuhan ekonomi atau PDB kuartal ketiga, yang menggarisbawahi ketahanan ekonomi AS, namun hal itu sedikit banyak memicu The Fed untuk mulai menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, selama inflasi tetap tinggi. Target penurunannya sebesar 2 persen.

Beige Book The Fed, yang memberikan gambaran ekonomi AS per wilayah, dirilis pada sore hari Rabu (29/11), menunjukkan aktivitas ekonomi sedikit melambat di bawah kebijakan moneter ketat bank sentral.

Gedung Capitol Hill di Washington DC, Amerika Serikat. Foto: Denny Armandhanu/kumparan

Ahli strategi portofolio senior Ingalls dan Snyder di New York, Tim Ghriskey mengatakan, meskipun pergerakan indeks lesu selama tiga sesi terakhir, bulan November merupakan bulan yang penting. S&P 500 tetap berada di jalur untuk mencatat persentase kenaikan bulanan terbesar sejak Juli 2022.

“Pasar memperoleh keuntungan yang besar, jadi pasti ada aksi ambil untung dan reposisi; ada beberapa konsolidasi yang terjadi di sini,” kata Ghriskey dikutip dari Reuters pada Kamis (30/11).

“Kami mempunyai pendapatan yang sangat kuat dan ada banyak optimisme. Dan karena itu, ada reposisi keuntungan,” tambahnya.

Berbeda pandangan, Gubernur Fed Christopher Waller yang secara luas dianggap hawk, memberikan jaminan pada hari Selasa bahwa The Fed mungkin telah mencapai akhir dari siklus kenaikan suku bunganya. Dia mengisyaratkan kemungkinan penurunan suku bunga dalam waktu dekat untuk merekayasa soft landing dan menghindari resesi.

“The Fed saat ini menahan diri, namun kebijakannya masih lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama,” imbuh Ghriskey.

“Perekonomian tetap relatif kuat. Tidak ada alasan bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga dan mengambil risiko munculnya kembali inflasi,” tutupnya.

Pada Rabu (29/11), Presiden Fed Cleveland Loretta Mester menegaskan kembali perlunya bank sentral untuk tetap “gesit” dalam menanggapi data ekonomi.

Di antara 11 sektor utama S&P 500, real estate (.SPLRCR) dan keuangan (.SPSY) mencatat persentase kenaikan terbesar, sementara layanan komunikasi (.SPLRCL) turun 1,1 persen.

Saham-saham momentum yang sensitif terhadap suku bunga, dipimpin oleh Microsoft Corp (MSFT.O) dan Apple Inc (AAPL.O) menjadi beban terberat pada S&P 500.

Saham Humana Inc (HUM.N) dan Cigna Group (CI.N) masing-masing turun 5,5 persen dan 8,1 persen, setelah sumber adanya desas-desus kedua perusahaan tersebut akan merger.

General Motors (GM.N) melonjak 9,4 persen setelah produsen mobil tersebut mengumumkan pembelian kembali saham senilai $10 miliar dan peningkatan dividen sebesar 33 persen. Saham Ford Motor Co (FN) menguat 2 persen.

CrowdStrike Holdings (CRWD) melonjak 10,4 persen menyusul perkiraan pendapatan kuartal keempat yang mengalahkan konsensus.

NetApp (NTAP.O) melonjak 14,6 persen setelah platform manajemen data berbasis cloud ini meningkatkan perkiraan laba tahunannya.

Saham-saham yang naik melebihi jumlah saham-saham yang turun di NYSE dengan rasio 2,06 banding 1; di Nasdaq, rasio 1,51 banding 1 menguntungkan saham-saham yang menguat.

S&P 500 membukukan 30 titik tertinggi baru dalam 52 minggu dan satu titik terendah baru; Nasdaq Composite mencatat 82 titik tertinggi baru dan 97 titik terendah baru.

Volume di bursa AS adalah 11,42 miliar lembar saham, dibandingkan dengan rata-rata 10,45 miliar saham untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

 

Leave a Comment