Arti Debt-to-Equity Ratio (DER) dan Urgensinya dalam Analisa Saham

Dalam analisa saham atau berita-berita terkait emiten, Anda boleh jadi akan sering menemui istilah Debt-to-Equity Ratio (DER). Ini merupakan salah satu rasio yang perlu diketahui oleh investor, khususnya yang mengandalkan analisa fundamental dan ingin mengetahui seberapa kokohnya fondasi suatu perusahaan sebelum membeli saham.

Arti Debt-to-Equity Ratio (DER) dan Urgensinya dalam Analisa Saham

Sesuai namanya, Debt-to-Equity Ratio (DER) adalah perbandingan antara utang total (Debt) dengan ekuitas total (Equity) dalam struktur permodalan suatu perusahaan. Artinya, DER menampilkan seberapa proporsi utang dibanding ekuitas perusahaan, sehingga dapat dipakai untuk mengukur seberapa sehat kondisi keuangannya.

Secara umum, investor perlu mewaspadai perusahaan-perusahaan yang memiliki DER tinggi dan terus menerus meningkat dari waktu ke waktu. Masalahnya, utang yang terlalu besar berarti perusahaan terancam pailit. Apabila perusahaan benar-benar dinyatakan pailit dan bangkrut, maka dapat diperkirakan akan menghadapi ancaman delisting paksa dari bursa efek Indonesia.

Mayoritas saham dengan Debt-to-Equity tinggi ini berada pada lini ketiga dan tergolong saham gocap. Operasional usahanya tidak jelas, produk yang dihasilkannya kurang dikenal, dan kondisi keuangannya rapuh. Situasi seperti ini bisa dilihat oleh siapa saja pada laporan keuangan yang dirilis berkala secara kuartalan oleh setiap perusahaan, sehingga harga saham dengan DER tinggi juga biasanya sangat murah karena tidak laku di bursa.

Sayangnya, investor pemula seringkali punya “mimpi” untuk mendapatkan untung besar dari saham-saham super murah seperti ini, tanpa memiliki pengetahuan mendalam mengenai penyebab harga saham murah. Akibatnya, ada saja investor yang dana investasinya “nyangkut” pada saham-saham semacam ini.

Anda boleh saja mengkoleksi saham-saham berharga super murah di lini ketiga untuk meraup cuan saat saham digoreng bandar. Namun, lemahnya fundamental keuangan perusahaan yang ditandai dengan tingginya DER ini bisa menjadi ranjau berbahaya jika Anda kurang perhatian. Ketika perusahaan dinyatakan bangkrut dan delisting mendadak, dana yang sudah ditanamkan bisa hangus karena Anda terpaksa menjual saham kembali pada harga rendah.

Baca Juga:   Investasi Deposito Vs P2P Lending, Mana yang Lebih Menguntungkan?

Meski demikian, ada kalanya angka DER tinggi, tetapi tak menjadi masalah. Yaitu pada saham-saham sektor perbankan. Hal ini berhubungan dengan operasional bisnis perbankan itu sendiri yang terkait dengan penyaluran dana dari nasabah penabung ke nasabah peminjam; sehingga struktur permodalannya akan mengandung lebih besar dana pihak ketiga ketimbang dana milik perusahaan sendiri.

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar