Angka Pengangguran di AS Naik, Wall Street Jatuh

PADA penutupan perdagangan Kamis (18/2/2021), ketiga indeks utama Wall Street jatuh. Angka pengangguran di AS naik pada pekan lalu, dan investor melepas saham teknologi besar  menunjukkan pemulihan yang rapuh pada pasar tenaga kerja.

Mengutip Reuters, Jumat (19/2), Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 119,68 poin atau 0,38 persen menjadi 31.493,34, indeks S&P 500 turun 17,36 poin atau 0,44 persen ke level 3.913,97, dan Nasdaq Composite melemah 100,14 poin atau 0,72 persen menjadi 13.865,36.

Saham Apple Inc, Tesla Inc dan Facebook Inc membebani indeks S&P 500 dan Nasdaq yang berisi saham sektor teknologi.

Pada perdagangan tersebut, saham Facebook anjlok 1,5 persen ke USD 269,39 karena Wall Street menilai akan ada konsekuensi yang lebih luas dari langkah perusahaan untuk memblokir semua konten berita di Australia.

Pergerakan bursa saham jelang akhir pekan ini berbanding terbalik dengan keadaan di awal pekan, saat indeks saham AS mencapai rekor tertinggi usai kemajuan dalam peluncuran vaksinasi dan harapan paket stimulus senilai USD 1,9 triliun.

“Tetapi reli selama berbulan-bulan menunjukkan saham sekarang memiliki penilaian tinggi,” kata Jason Pride, Chief Investment Officer for Private Wealth Glenmede di Philadelphia.

Kekhawatiran atas proyeksi inflasi yang meningkat telah mendorong investor untuk membukukan keuntungan saham. Valuasi tertinggi terdapat di sektor teknologi dan layanan komunikasi pada indeks S&P 500, yang telah mendukung kenaikan 76 persen di indeks S&P 500 sejak posisi terendah Maret 2020.

Sementara itu, laporan Departemen Tenaga Kerja menunjukkan, klaim awal untuk tunjangan pengangguran negara bagian naik menjadi 861.000 minggu lalu, dari 848.000 pada pekan sebelumnya. Sebagian karena klaim potensial terkait dengan penutupan sementara pabrik mobil karena kekurangan chip semikonduktor global.

Dari 11 sektor utama S&P 500, hanya sektor utilitas dan kebijaksanaan konsumen yang naik, sementara sektor real estat hanya turun 0,02 persen.

Saham Walmart Inc turun 6,5 persen menjadi USD 137,66, setelah peritel terbesar di dunia itu melewatkan perkiraan laba kuartalan dan memperkirakan kenaikan satu digit dalam penjualan bersih tahun fiskal 2022.

“Kami mendapatkan pembacaan yang beragam. Penjualan ritel yang kuat dan kemudian klaim yang buruk. Kami akan melihat hal itu mungkin untuk sisa kuartal ini,” kata Jack Ablin, Kepala Investasi Cresset Capital Management di Chicago.

Walmart telah banyak berinvestasi dalam periklanan online dan bisnis perawatan kesehatan selama setahun terakhir, menggunakan momentum penjualan yang dipicu pandemi untuk melakukan diversifikasi di luar ritel fisik.

Sedangkan saham Marriott International Inc naik 0,5 persen menjadi USD 131,98, setelah perusahaan melaporkan kerugian kuartalan karena pemesanan jaringan hotel turun usai pembatasan perjalanan akibat pandemi.

 

Leave a Comment