Mengapa Pasar Saham dan Perekonomian Tidak Terkoneksi?

Setelah ‘dihantam’ keras oleh pandemi covid-19 di awal tahun ini, pasar saham di Amerika Serikat tampaknya mulai bangkit. Poin rendah S&P500 pada minggu ke-3 Maret tahun ini kini digantikan oleh kenaikan pada indeks harga saham hingga 28% secara total pada tanggal 12 Mei 2020 lalu.  Kenaikan mencapai 28% dalam waktu kurang dari 2 bulan menunjukkan adanya diskoneksi antara pasar saham dan perekonomian. Tidak heran jika para investor saham mempertanyakan mengapa pasar saham sepertinya tidak berhubungan dengan kondisi perekonomian secara global.

Penyebab Diskoneksi Pasar Saham dan Perekonomian

Seperti diketahui, kondisi perekonomian global belum menunjukkan tanda-tanda kebangkitan, meskipun sejumlah negara mulai melonggarkan lockdown. Ternyata, kondisinya berbeda di pasar saham. Dilaporkan bahwa bulan April tahun 2020 adalah salah satu bulan terbaik bagi S&P 500 sejak tahun 1950. Pada kenyatannya, tidak ada seorangpun yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi di pasar saham dan perekonomian besok, lusa, atau minggu depan. Namun, pasar saham menunjukkan situasi lain. Berikut adalah penjelasannya menurut para pakar ekonomi.

pasar saham dan perekonomian
Data Ekonomi Vs Data Pasar

Pertama dan paling utama yang mesti diingat adalah: bahwa dalam kondisi normal sekalipun, data perekonomian melihat ke belakang, sedangkan data pasar saham melihat ke depan. Menurut defisinya, resesi didasarkan pada data masa lalu (biasanya 6 bulan terakhir atau lebih). Jadi, saat data perekonomian yang hancur dirilis, pasar sebenarnya sudah memiliki kebijakan lain. Jadi, masalahnya adalah apakah data dan ekspektasi pasar sejalan atau tidak.

Pasar Sangat ‘Membenci’ Ketidakpastian

Kedua, pasar lebih membenci ketidakpastian dari pada kabar buruk. Selama bulan April tahun 2020, lebih dari 20 juta orang kehilangan pekerjaan di Amerika Serikat. Di awal bulan Mei ini, sebanyak 3 juta lagi sudah mengajukan kompensasi atas kehilangan pekerjaan. April Tahun 2020 adalah bulan terburuk dalam catatan kehilangan pekerjaan. Namun, futura di S&P 500 justru naik pada minggu yang sama.

Mengapa? Padahal pasar memperkirakan adanya penambahan lebih dari 22 juta pengangguran lagi. Hilangnya lapangan kerja adalah berita buruk. Jika pasar tidak berada di tengah ketidakpastian, maka para investor saham masih bisa optimis, meskipun ada kabar buruk tentang hilangnya banyak lapangan kerja.

Pendapatan Korporasi Tahun Depan Bukan Masalah

Ketiga, meskipun dibutuhkan waktu satu tahun untuk mendapatkan vaksin virus corona, hal itu tidak berdampak buruk terlalu lama bagi pasar saham. Kita semua berdiam diri di rumah, namun pasar saham tidak pernah diam. Aliran kas sebuah perusahaan selama 12 bulan kedepan hanyalah bagian kecil dari pembentuk nilai saham. Itulah yang anda bayar saat anda membeli saham: yakni, aliran kas perusahaan untuk bulan-bulan berikutnya.

Dari sudut pandang sejarah, rasioP/E (Price to Earnings) masih tinggi. Rasio P/E ke depan adalah 20.5x. Selama 25 tahun terakhir, rasio P/E rata-rata adalah 16x dari penghasilan. Artinya, pendapatan perusahaan untuk 12 bulan ke depan hanyalah bagian kecil yang membentuk nilai saham.

Kebijakan Moneter dan Fiskal

Terakhir, respon moneter dan fiskal terhadap krisis covid-19 sangat berkaitan dengan pemulihan pasar.  Inilah salah satu aspek yang membuat tidak adanya koneksi antara pasar saham dan perekonomian. Federal Reserve telah menyuntikkan likuiditas yang sangat besar di pasar saham: The Fed membeli banyak obligasi untuk memastikan likuiditas pasar uang dan mendorong aliran uang ke korporasi. Ini adalah upaya pemerintah Amerika Serikat untuk mencegah kehancuran lebih buruk.

Likuiditas sangat penting untuk membangkitkan kepercayaan diri para investor bahwa mereka tetap bisa mengakses kredit atau bertransaksi secara aman. Jika tidak ada likuiditas, anda mungkin tidak akan mendapatkan pembeli saat anda mencoba menjual obligasi, sebagai contoh. Karena The Fed mengatur range suku bunga mendekati 0%, pasar saham bisa tetap percaya diri.

Apakah Kehancuran Pasar Saham Tahun 2020 Sudah Berakhir?

Banyak yang mempertanyakan hal ini melihat tidak ada koneksi antara pasar saham dan perekonomian. Sejumlah pertanyaan muncul. Misalnya, Apakah kita sudah melalui kondisi terburuk? Haruskah kita tetap berinvestasi selama resesi? Sepertinya, kondisi mulai membaik. Banyak perusahaan yang mulai membuka operasinya kembali. Obat anti-virus corona sudah mulai diteliti dan melalui uji klinik. Jadi, kita harus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Namun sementara itu, jangan kaget jika pasar saham terus bergerak terlepas dari kabar buruk dari perekonomian global. Saat mempertimbangkan “Apakah ini waktu yang baik untuk berinvestasi atau tidak?” cobalah untuk tidak terjebak dalam fluktuasi pasar yang sifatnya jangka pendek. Pasar saham tidak berhubungan dengan nilai uang jangka pendek. Namun, cobalah untuk fokus pada faktor-faktor yang dapat anda kendalikan. Misalnya, bagaimana cara berinvestasi selama krisis atau menyusun rencana finansial anda selama masa krisis. Diskoneksi pasar saham dan perekonomian adalah sesuatu yang logis karena cara kerjanya berbeda.

Tagged With :

Leave a Comment