Tren dedolarisasi semakin meluas. Bukan hanya bank sentral yang berupaya mengurangi holding dolar AS, melainkan juga para produsen dan konsumen minyak mentah.
Sebagian hegemoni dolar AS bersumber dari perannya sebagai mata uang satu-satunya dalam transaksi jual-beli minyak mentah dunia. Bermacam-macam harga minyak mentah acuan pun ditulis dalam dolar AS. Sampai-sampai muncul istilah “petrodollar“. Namun, itu dulu.

Transaksi jual-beli minyak mentah dalam dolar AS saat ini masih dominan, tetapi hanya mencakup sekitar 80% dalam perdagangan dunia. Sebanyak 20% transaksi terlaksana dalam beragam mata uang minyak (petrocurrency) lainnya, yaitu:
- Yuan China (CNY) sekitar 5-10%
- Euro (EUR) kurang dari 5%
- Rubel Rusia (RUB), Rupee India (INR), dan Dirham Uni Emirat Arab (AED) yang sering digunakan dalam perjanjian bilateral terstruktur secara terbatas dengan nilai fluktuatif.
Kehadiran yuan China dalam pasar minyak mentah dunia didukung oleh beragam faktor dari dalam dan luar negeri. Di satu sisi, pemerintah China mempromosikan “petroyuan” sebagai alat pembayaran alternatif. Di sisi lain, negara-negara yang terkena sanksi AS membutuhkan mata uang yang juga bisa digunakan untuk membayar beragam jenis barang impor.
Pemerintah China membangun tiga pilar penting bagi petroyuan, yaitu:
- Kontrak berjangka minyak mentah berdenominasi yuan: Pada bulan Maret 2018, Shanghai International Energy Exchange (INE) meluncurkan kontrak berjangka minyak mentah yang sepenuhnya dalam yuan. Hal ini memungkinkan trader dari berbagai negara untuk memperjualbelikan ataupun melakukan hedging komoditas tanpa melakukan konversi ke dolar AS.
- Perjanjian bilateral: Pada Juni 2017, bank sentral China dan Rusia menandatangani nota kesepahaman untuk memfasilitasi jual-beli minyak mentah dengan yuan. Sejak saat itu, China telah melakukan pertukaran bilateral serupa dengan banyak negara lainnya.
- Konversi emas: China mengizinkan bank sentral mancanegara untuk mengonversi pendapatan petroyuan menjadi emas batangan fisik di Shanghai dan Hong Kong.
Yuan saat ini digunakan untuk menyelesaikan sebagian besar transaksi minyak mentah antara China dengan Rusia, Iran, dan Venezuela. Selain itu, kehadiran mBridge project yang digawangi oleh Bank for International Settlements (BIS) memungkinkan yuan untuk digunakan dalam transaksi dengan negara-negara produsen minyak lainnya seperti Arab Saudi.
Mungkinkan petroyuan menggusur hegemoni petrodollar? Hal ini kemungkinan tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Namun, tidak tertutup kemungkinan bagi yuan untuk terus meningkatkan pangsanya dan menggerogoti pangsa dolar AS di pasar minyak dunia.
Tagged With : as china • harga komoditas • minyak