Daftar Saham yang Akan Buyback Tahun 2026

Semakin banyak emiten berencana melakukan buyback saham pada tahun 2026. Kejatuhan IHSG beberapa waktu lalu dipandang sebagai peluang untuk serok kanan oleh para emiten yang masih percaya pada prospek dan kinerja usahanya ke depan.

Perbedaan Pasar Reguler, Pasar Negosiasi, dan Pasar Tunai di BEI

Berikut ini daftar saham yang akan buyback tahun 2026, beserta periode dan dana yang disiapkan oleh emiten.

  1. PT Ashmore Asset Management Indonesia (AMOR) pada tanggal 30 Januari-30 April 2026 dengan anggaran Rp7 miliar.
  2. PT Allo Bank Indonesia (BBHI) pada tanggal 30 Januari-29 April 2026 dengan anggaran Rp60 miliar.
  3. PT Bank Negara Indonesia (BBNI) pada bulan Maret 2026-2027 (tentatif) dengan anggaran Rp1,5 triliun.
  4. PT Bank Central Asia (BBCA) pada bulan Maret 2026-2027 (tentatif) dengan anggaran Rp5 triliun.
  5. PT BFI Finance Indonesia (BFIN) pada tanggal 23 Februari-23 Mei 2026 dengan anggaran Rp100 miliar.
  6. PT Erajaya Swasembada (ERAA) pada tanggal 23 Januari-23 April 2026 dengan anggaran Rp150 miliar.
  7. PT Medikaloka Hermina (HEAL) pada tanggal 30 Januari-30 April 2026 dengan anggaran Rp200 miliar.
  8. PT Harum Energy (HRUM) pada tanggal 2 Januari 2026-1 April 2026 dengan anggaran Rp335 miliar.
  9. PT Kalbe Farma (KLBF) pada tanggal 16 Desember 2025-25 Maret 2026 dengan anggaran Rp250 miliar.
  10. PT Rukun Raharja (RAJA) pada tanggal 29 Januari-28 April 2026 dengan anggaran Rp250 miliar.
  11. PT RMK Energy (RMKE) pada tanggal 2 Februari-1 Mei 2026 dengan anggaran Rp200 miliar
  12. PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG) pada tanggal 20 Januari-29 April 2026 dengan anggaran Rp360 miliar.
  13. PT United Tractors (UNTR) pada tanggal 25 Januari-15 April 2026 dengan anggaran Rp2 triliun.

Perusahaan publik yang melantai di bursa ekuitas lazim membeli kembali sahamnya (buyback) pada waktu-waktu tertentu. Aksi korporasi tersebut diharapkan dapat membendung kemerosotan harga saham dalam jangka pendek, sekaligus menghasilkan laba seiring dengan kenaikan harganya di masa mendatang.

Harga saham biasanya terstabilisasi atau justru meningkat seiring dengan pelaksanaan buyback, terutama jika perseroan memiliki prospek yang menjanjikan. Di satu sisi, buyback emiten itu sendiri menciptakan permintaan yang cukup besar terhadap saham terkait. Di sisi lain, kepercayaan dan minat beli investor ritel umumnya meningkat setelah mengetahui niat emiten untuk melakukan buyback.

Tagged With :

Leave a Comment