Karena investor mencermati data ketenagakerjaan hari Jumat dan bersiap untuk pekan rilis data inflasi dan pendapatan bank, pada perdagangan hari Senin (10/4/2023), indeks saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup bervariasi.
Mengutip Reuters, Selasa (11/4), Dow Jones Industrial Average naik 101,23 poin atau 0,3 persen menjadi 33.586,52. S&P 500 naik 4,09 poin atau 0,1 persen menjadi 4.109,11 dan Nasdaq Composite turun 3,6 poin atau 0,03 persen menjadi 12.084,36.
Saham megacap (.NYFANG) menyeret Nasdaq melemah, sementara saham industri (.SPLRCI) mendorong Dow ke zona hijau. Sedangkan S&P 500 mengakhiri sesi lebih tinggi.
“Investor masih meyakinkan diri mereka sendiri bahwa Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Mei yang menambah kemungkinan resesi mendatang, investor meningkat menjelang laporan CPI dan PPI (pekan ini),” ujar kepala strategi investasi CFRA Research di New York Sam Stovall.
Pelaku pasar akan mencermati indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) dan produsen (PPO), yang diharapkan pada Kamis dan Jumat ini menggambarkan lebih lengkap tentang inflasi yang mereda pada bulan Maret lalu.
Pada Jumat yang bertepatan dengan hari libur pasar, Departemen Tenaga Kerja merilis laporan pekerjaan bulan Maret, yang menunjukkan pertumbuhan gaji yang kuat dan penurunan inflasi upah yang disambut baik.
Laporan tersebut memberi sinyal dampak kebijakan pembatasan Fed mulai terlihat, yang meningkatkan peluang bank sentral akan menaikkan 25 basis poin lagi ke target tingkat suku bunga Fed pada akhir pertemuan kebijakan bulan Mei.
Indikator terbaru menunjukkan ekonomi yang melemah namun kokoh sehingga dapat menahan kebijakan Fed yang hawkish, karena target bank sentral adalah mendorong inflasi mendekati target tahunan 2 persen.
“Jelas bahwa pernyataan Fed terputus, antara apa yang mereka lakukan dan apa yang pelaku pasar yakin apa yang akan Fed lakukan,” imbuh wakil presiden senior Wealthspire Advisor New York Oliver Pursche.
“Ketika The Fed mengulangi prioritas mereka dan apa yang dilakukan dari waktu ke waktu, mereka akan melakukannya,” sambungnya.
DIPREDIKSI MENGUAT
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat pada perdagangan Selasa (11/4) . Pada perdagangan Senin (10/4), IHSG ditutup melemah 0,32 persen di level 6.771,235.
Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, mengatakan pelemahan IHSG di hari Senin merupakan pullback wajar untuk keluar dari overbought area. Tidak ada indikasi bearish reversal karena pelemahan Senin diikuti penurunan volume transaksi. Jika pullback berlanjut, strong support diperkirakan di level 6.700.
“Dari dalam negeri, cadangan devisa naik USD 4.9 miliar month-to-month (mtm) ke USD 145.2 miliar per akhir Maret 2023. Kondisi tersebut setara dengan 6,4 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Hal ini memperkuat posisi nilai tukar rupiah di bawah level psikologis Rp 15,000 per USD hingga Senin sore,” tulis Alrich dalam risetnya, Selasa (11/4).
Alrich juga mengatakan pasar domestik tengah mengantisipasi data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di Maret 2023. Tercatat IKK Indonesia bertahan di atas 120 pada bulan Januari-Februari 2023.
Sementara itu, Analis Bina Artha Sekuritas, Ivan Rosanova, mengatakan IHSG telah menembus di bawah fraktal 6.781, namun tetap di atas Fibonacci retracement 38,2 persen dari struktur tren naik sebelumnya sebagai support terdekat. Karena IHSG membentuk candle hammer pada chart harian, Ivan memperkirakan IHSG mengalami rebound hari Selasa, menuju resisten minor di 6.817.
“Level support IHSG berada di 6.735, 6.705, dan 6667 sementara level resistennya di 6.817, 6.872, 6.901, 6.962, dan 7.006. Berdasarkan indikator MACD dalam kondisi netral,” jelas Ivan.
Ivan merekomendasikan beberapa saham yaitu ASII, BBCA, ESSA, INDF, dan TKIMH.