Saham jumbo dengan kapitalisasi besar (megacap) tumbuh di bawah tekanan usai imbal hasil Treasury menunjukkan tingkat suku bunga tinggi. Hal tersebut membuat Indeks saham Amerika Serikat (AS) Wall Street berakhir variasi pada perdagangan Jumat (10/2/2023).
Mengutip Reuters, Senin (13/2), Dow Jones Industrial Average berakhir naik 169,52 poin atau 0,5 persen menjadi 33.869,4. S&P 500 naik 8.98 poin atau 0,22 persen menjadi 4.090,48, sedangkan Nasdaq Composite turun 71,46 poin atau 0,61 persen menjadi 11.718,12.
Nasdaq anjlok 2,41 persen selama minggu pertama tahun ini. Kemudian S&P 500 mengakhiri 1,11 persen lebih rendah dan Dow Jones turun 0,17 persen pekan ini. Penurunan ini ditopang oleh komentar hawkish dari pejabat Federal AS dan laporan pendapatan dari konstituen S&P 500.
Terjadi reli pada saham energi karena harga minyak naik di tengah rencana Rusia mengurangi pasokan minyak mentah. Hal ini menopang kinerja Dow dan S&P 500.
Penurunan saham-saham itu terjadi setelah kinerja saham yang luar biasa di bulan Januari lalu. Pada bulan Februari ini, rilis data pekerjaan yang kuat dan komentar dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell memicu kekhawatiran seberapa besar suku bunga mungkin perlu dinaikkan lebih tinggi.
“Apa yang telah terjadi selama beberapa hari terakhir adalah setiap hari ada gubernur Fed yang berbicara hawkish,” kata kepala eksekutif manajer aset 180 Degree Capital Kevin Rendino.
Sentimen konsumen AS meningkat lebih lanjut di bulan Februari meskipun inflasi yang tinggi akan bertahan selama 12 bulan, berdasarkan riset University of Michigan.
Setelah ekuitas AS terguncang selama seminggu karena data pekerjaan yang kuat, investor menunggu data inflasi konsumen Januari minggu depan untuk penjelasan kenaikan suku bunga Fed.
BERPELUANG MENGUAT
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi berpeluang menguat pada perdagangan Senin (13/2). Pada perdagangan Jumat (10/2) IHSG ditutup melemah ke 0,25 persen di level 6880.329.
Analisis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyebut IHSG diperkirakan bergerak terkonsolidasi dalam rentang 6830-6960.
Alrich mengatakan hal ini dipengaruhi Amerika Serikat (AS) yang akan merilis data inflasi bulan Januari 2023 pada Selasa (14/2). Sebelumnya, Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menyatakan bahwa inflasi telah menurun, akan tetapi kekhawatiran pengetatan The Fed masih akan lebih agresif membayangi pelaku pasar.
Sementara, dari dalam negeri, pelaku pasar mengantisipasi rilis data Neraca Perdagangan serta Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) Januari 2023 pada pekan ini.
“Kedua data tersebut diharapkan dapat mendorong penguatan nilai tukar Rupiah ke bawah Rp 15.000 per USD,” tulis Alrich dalam risetnya, Senin (13/2).
Alrich merekomendasikan top pick pada Senin in adalah ESSA, MDKA, BRIS, TLKM, dan ASII.
Sementara, Analisis Bina Artha Sekuritas, Ivan Rosanova, menyebut IHSG telah mencapai target koreksi minimal wave b di 6807, dan saat ini berada dalam rebound minor yang dapat mengisi gap mendekati level 6000.
“Koreksi yang lebih dalam menuju 6760 akan terjadi selama IHSG masih di bawah 6.938 Level,” jelas Ivan dalam risetnya
Ia juga memperkirakan level support IHSG berada di 6.807, 6.860 dan 6.712. Sementara level resistennya di 6.900, 6.968 dan 7.000.
“Berdasarkan indikator MACD dalam kondisi netral,” tulisnya.
Berikut adalah rekomendasi saham dari Bina Artha Sekuritas:
ASII – Buy on Weakness
ASII ditutup menguat di level 5.700 pada 1 0 Februari 2023 ASII sedang membentuk wave [b] dengan target koreksi ideal di level 5.525 dimana Fibonacci retracement 618 dari reli wave [a] berada. Namun demikian adanya pelemahan di bawah 5500 dapat memperpanjang koreksi menuju 5.375.
Buy on Weakness: 5.350- 5.450
Target Price: 5.900
EMTK – Buy on Weakness
EMTK ditutup melemah di level 1.080 pada 10 Februari 2023 EMTK sedang membentuk wave x dalam skenario utama dan diperkirakan akan menguji zona support 980-995 apabila harga penutupan hariannya di bawah 1.035 Berdasarkan indikator MACD dalam kondisi netral.
Buy on Weakness: 980-1.020
Target Price: 1.150