Pada penutupan perdagangan, Selasa (7/2/2023), indeks saham Amerika Serikat (AS) Wall Street menguat. Meski begitu, perdagangan sempat terguncang seiring investor mencermati komentar dari Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell mengenai seberapa lama bank sentral perlu mengatasi inflasi.
Mengutip Reuters, Rabu (8/2), Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 265,67 poin atau 0,78 persen menjadi 34.156,69, S&P 500 naik 52,92 poin atau 1,29 persen menjadi 4.164. Nasdaq Composite juga bertambah 226,34 poin atau 1,9 persen menjadi 12.113,79 poin.
Powell mengatakan 2023 harus menjadi tahun penurunan inflasi yang signifikan. Komentarnya menjadi harapan investor untuk kebijakan moneter yang kurang agresif usai laporan pekerjaan AS yang kuat Jumat lalu.
“Kami tidak menyangka akan sekuat ini,” ujar Powell melihat data tingkat ketenagakerjaan AS.
Wall Street berfluktuasi setelah pernyataan Powell, dan analis mengatakan volatilitas tersebut kemungkinan tidak akan segera meredup.
“Powell berharap mereka tidak memotong suku bunga dalam waktu dekat, tetapi ada jalan yang baik, bahwa mereka mencapai apa yang perlu dicapai,” kata kepala strategi perdagangan di TD Ameritrade Shawn Cruz.
“Sampai kita lihat perlambatan dan inflasi di seluruh ekonomi di seluruh dunia, akan sulit untuk mendorong pasar naik dengan cara yang menentukan,” imbuh Carol Schleif, kepala investasi di BMO Family Office.
Menyusul komentar Powell, Morgan Stanley memperkirakan kenaikan 25 basis poin pada pertemuan kebijakan The Fed pada Mei nanti, tetapi terus mengharapkan penurunan suku bunga 25 basis poin pertama di Desember 2023.
Pekan lalu, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Pasar sekarang menetapkan harga pada tingkat puncak di atas 5 persen usai data pekerjaaan yang kuat pada hari Jumat.
DIPREDIKSI MENGUAT
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat pada perdagangan Rabu (8/2). Pada perdagangan Selasa (7/2) IHSG ditutup naik 61,51 poin (0, 89 persen) ke posisi 6.935,51.
Analis Henan Putihrai Sekuritas, Ezaridho Ibnutama, menjelaskan pergerakan IHSG akan meningkat meskipun sentimen di luar negeri cenderung menurun, di dalam negeri masih terjadi tren bullish.
“IHSG saat ini ditopang sektor agresif seperti teknologi dan perbankan karena dampak resesi global di Indonesia sangat rendah. Probabilitas resesi di Indonesia sekitar 2-5 persen saja,” kata Ezaridho dalam risetnya, Rabu (8/2).
Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, memprediksi pergerakan IHSG hari ini berada di rentang 6.840-7.000. Dia berkata, IHSG berpeluang memvalidasi sinyal bullish reversal.
Alrich menambahkan, katalis positif penguatan IHSG yaitu kondisi ekonomi domestik yang baik, di mana pertumbuhan ekonomi Indonesia berhasil tumbuh 5,31 persen (yoy) di 2022, lebih tinggi dari perkiraan di 5,29 persen (yoy).
“Kondisi cadangan devisa per Januari 2023 (USD 139.4 miliar) yang cukup untuk membiayai 6,1 bulan impor, berada jauh di atas standar kecukupan internasional di 3 bulan impor,” jelas Alrich.
Sementara dari sisi sektoral, lanjut dia, sektor energi membukukan pertumbuhan paling signifikan pada perdagangan kemarin. Hal ini salah satunya dipicu oleh aksi bargain hunting pada saham-saham energi di tengah antisipasi rilis laporan keuangan tahunan 2022.
Dengan demikian, Alrich merekomendasikan saham-saham energi yang masih berpotensi menjadi mover IHSG hari ini, di antaranya PTBA, MEDC, INDY dan UNTR. Saham di luar energi yang berpotensi rebound meliputi ANTM, UNVR, BBTN dan EXCL.