Pada perdagangan Rabu (18/1/2023), indeks saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup melemah. Penurunan tersebut seiring data ekonomi yang lemah memicu kekhawatiran resesi.
Mengutip Reuters, Kamis (19/1), Dow Jones Industrial Average turun 613,89 poin atau 1,81 persen menjadi 33.296,46. S&P 500 kehilangan 62,11 poin atau 1,56 persen, menjadi 3.928,86. Nasdaq Composite turun 138,1 poin atau 1,24 persen menjadi 10.957,01.
Penurunan Nasdaq pada hari Rabu adalah kerugian awal dalam delapan sesi, sementara S&P dan Dow Jones mengalami penurunan harian terbesar sejak 15 Desember.
Dengan Wall Street menunjukkan keuntungan untuk 2023, Kepala Strategi Investasi Penelitian CFRA Sam Stovall mengatakan investor mencermati data ekonomi yang lemah sebagai peluang untuk mengambil keuntungan.
“Pasar mengalami kondisi overbought. Data ekonomi hari ini menjadi pemicu memulai aksi ambil untung, dan kelompok dengan keuntungan banyak menjadi yang terbaik tahun lalu,” ujar Stovall. Sebelum pasar dibuka, data ekonomi AS menunjukkan penjualan eceran dan harga produsen turun pada Desember, sementara produksi pabrik AS turun dari estimasi serta output November lebih rendah dari yang diharapkan.
Pada siang sebelumnya, Presiden Fed St Louis James Bullard dan Presiden Fed Cleveland Loretta Mester menekankan perlunya menaikkan suku bunga di atas 5 persen untuk menurunkan inflasi.
Menjelang sore, Presiden Federal Reserve Philadelphia Patrick Harker berharap Fed menaikkan suku bunga beberapa kali lagi tahun ini. Dia siap Bank Sentral AS bergerak ke laju kenaikan suku bunga yang lebih lambat karena tanda inflasi melambat.
Komentar The Fed menyoroti perbedaan perkiraan bank sentral AS tentang ekspektasi pasar yang tingkatnya memuncak pada 4,88 persen pada bulan Juni. Pelaku pasar bertaruh suku bunga naik 25 basis poin pada bulan Januari.
Investor juga fokus pada musim pendapatan kuartal keempat untuk melihat kinerja perusahaan Amerika yang dilatarbelakangi suku bunga yang lebih tinggi.
DIPREDIKSI MENGUAT TERBATAS
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat terbatas pada perdagangan Kamis (19/1). Pada perdagangan Rabu (18/1), IHSG ditutup di zona merah atau turun 1,554 poin (0,02 persen) ke 6.765,786.
CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Surya Wijaya, memperkirakan pergerakan IHSG saat ini terlihat kembali pada rentang konsolidasi pasca mengalami kenaikan jangka pendek pada beberapa waktu sebelumnya. Menurutnya, IHSG akan berada dalam tentang 6.654 – 6.789.
Sedangkan perkembangan pola pergerakan IHSG masih menunjukkan tren positif dalam jangka panjang. Sehingga peluang kenaikan masih terbuka lebar di tengah gelombang capital outflow.
“Hari ini pergerakan IHSG juga akan diwarnai oleh rilis data perekonomian tingkat suku bunga yang disinyalir belum akan mengalami perubahan, hari ini IHSG berpotensi menguat terbatas,” terang William dalam prediksinya, Kamis (19/1).
Saham yang direkomendasikan William adalah AALI, INDF, BBRI, ITMG, ASII, JSMR, CTRA, BSDE
Sementara itu, Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, memperkirakan IHSG berfluktuasi dalam rentang 6.740-6.815. Secara teknikal, kata Alrich, proyeksi tersebut didasari oleh terbentuknya pola doji star di kisaran pivot 6.740 dan Stochastic RSI yang mulai memasuki overbought area.
“Fokus pelaku pasar kepada pengumuman hasil RDG Bank Indonesia di Kamis (19/1) sore. Pasar cenderung terbagi pada proyeksi suku bunga dipertahankan di 5.5 persen dan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps,” kata Alrich.
The Fed diperkirakan hanya menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps di FOMC Februari 2023. Menurutnya, pasar mungkin cenderung fluktuatif di tengah sikap wait and see pelaku pasar terhadap RDG BI tersebut.
Lebih lanjut, penguatan harga minyak hingga Rabu (18/1) sore di tengah realisasi sejumlah data ekonomi Tiongkok yang lebih baik dari ekspektasi berpotensi menopang harga saham komoditas.
Saham yang direkomendasikan Alrich, PTBA, AALI dan LSIP, UNTR, KLBF dan INDF. Selain itu, spekulasi terhadap hasil RDG BI berpotensi memicu fluktuasi di PWON, BBCA dan BMRI.