Pada penutupan perdagangan Senin (9/1/2023) waktu Amerika Serikat, Wall Street berakhir variatif. Gerak laju tiga indeks utama dan saham dipengaruhi investor yang menanti pernyataan Gubernur Bank Sentral AS, Jerome Powell, soal suku bunga agar inflasi bisa terkendali.
Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 112,96 poin, atau 0,34 persen, menjadi 33.517,65, S&P 500 (.SPX) kehilangan 2,99 poin, atau 0,08 persen, menjadi 3.892,09 dan Nasdaq Composite (.IXIC) menguat 66,36 poin atau 0,63 persen menjadi 10.635,65.
S&P 500 bergerak terbatas karena investor mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga yang kurang agresif dari Fed. Sementara Dow Jones ditutup melemah dan Nasdaq Composite (.IXIC) berakhir lebih unggul dibandingkan yang lain.
“Investor sedang menunggu komentar di Selasa dari Ketua Fed Jerome Powell. Beberapa ahli memperkirakan Fed butuh lebih banyak waktu untuk mengendalikan inflasi,” demikian laporan Reuters, Selasa (10/1).
Sebanyak 77 persen ahli memprediksi Fed akan menaikkan lagi suku bunga acuan 25 basis poin (bps) pada bulan depan. Laporan inflasi atau Consumer Price Index (CPI) pekan ini akan menjadi penentu kebijakan Fed.
“Laporan inflasi yang akan dirilis Kamis bisa menjadi kunci ekspektasi suku bunga. Ini akan menjadi penting untuk menyempurnakan pasar berjangka dana Fed,” kata Kepala Strategi Global LPL Financial, Quincy Krosby.
Sementara itu, kata Manajer Portofolio di Kingsview Investment Management, Paul Nolte, investor juga mungkin telah menjual beberapa saham setelah kenaikan pasar yang kuat baru-baru ini.
“Anda melihat sedikit aksi ambil untung menjelang angka CPI yang akan dirilis minggu ini,” katanya.
Saham Broadcom Inc (AVGO.O) merosot 2 persen. Sementara saham Tesla Inc (TSLA.O) naik 5,9 persen setelah mereka mengindikasi butuh waktu lebih lama memproduksi kendaraan listrik versi Model Y di China.
Macy’s Inc (M.N) turun 7,7 persen dan Lululemon Athletica Inc (LULU.O) turun 9,3 persen setelah kedua pengecer mengeluarkan perkiraan kuartal liburan yang mengecewakan.
DIPREDIKSI MELEMAH
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan Selasa (10/1). Pada perdagangan Senin (9/1), IHSG ditutup menguat 3,707 poin (0,06 persen) ke level 6.688,265.
Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang memperkirakan IHSG berpotensi ke kisaran 6.730-6.750, mengingat kondisi Stochastic RSI yang telah memasuki oversold area. Resistance IHSG akan berada di posisi 6.800 dan support di posisi 6.640.
Kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) di tengah tingginya inflasi di Indonesia menjadi kabar positif. Di samping itu, rebound harga komoditas juga dapat memicu rebound lanjutan harga saham-saham komoditas,” tulis Alrich dalam risetnya, Selasa (10/1).
Alrich melanjutkan, saham defensif dapat diperhatikan. Hal ini didasari oleh kenaikan IKK Indonesia ke 119.9 di Desember 2022 dari 119.1 di November 2022. Kemudian, pelaku pasar menantikan pidato Kepala The Fed Jerome Powell di Selasa (10/1).
Menurutnya, pelaku pasar mengantisipasi penegasan Powell terkait kemungkinan kenaikan lanjutan suku bunga acuan di semester 1 2023 dan terkait prospek penurunan suku bunga acuan di 2024.
“Di samping itu, penurunan volume dan value transaksi mengindikasikan fase konsolidasi (tekanan jual mereda),” lanjutnya.
Sementara itu, Analis Bina Artha Sekuritas, Ivan Rosanova, mengatakan IHSG berada di persimpangan pada chart daily, bertahan di bawah garis SMA-5 dengan candle spinning top pada hari Senin (9/1) memberi sinyal bahwa tren turun akan berlanjut.
“Kenaikan di atas 6.753 akan membuka peluang bagi IHSG untuk melanjutkan skenario alternatif. Berdasarkan indikator MACD menandakan momentum bearish,” kata Ivan.
Adapun beberapa saham yang direkomendasikan Ivan, yaitu ANTM, ITMG, TLKM, dan UNTR.
- ANTM
Recommendation: Buy on Weakness
Price Range: 1.830 – 1.870
Target Price: 2.000
- ITMG
Recommendation: Speculative Buy
Price Range: 33.250 – 34.000
Target Price: 36.500
- TLKM
Recommendation: Speculative Buy
Price Range: 3.620 – 3.650
Target Price: 3.800
- UNTR
Recommendation: Speculative Buy
Price Range: 23.000 – 23.600
Target Price: 26.000