Mendorong Produktivitas Kerja dengan Membiasakan Istirahat Makan Siang

Cobalah sekali-kali berkunjung ke kantor-kantor perusahaan besar di kota-kota besar, dan besar kemungkinan anda akan menemukan pemandangan yang sama: karyawan yang bekerja hingga larut malam, untuk mencoba menyelesaikan pekerjaannya hari itu atau memulai pekerjaan esok harinya. Apakah memang benar bahwa mendorong produktivitas kerja mesti dilakukan dengan bekerja lembur? Faktanya, karyawan bertanggung jawab memenuhi ekspektasi yang tinggi dari perusahaan, sementara mereka dibekali dengan sumber daya yang terbatas dan tekanan kerja yang semakin meningkat.

Mendorong Produktivitas Kerja: Apakah Mesti dengan Lembur?

Selama bertahun-tahun, perusahaan-perusahaan besar di dunia cenderung berasumsi bahwa bekerja hingga larut malam adalah salah satu cara untuk mencapai target kinerja perusahaan. Namun faktanya, membakar energi hingga tengah malam justru membuat anda menjadi kelelahan, bukannya bertambah semangat, terinspirasi, dan siap untuk bekerja penuh seharian. Riset terbaru menunjukkan bahwa kunci mendorong produktivitas kerja dan mengoptimalkan fungsi sebuah perusahaan bukanlah bekerja di bawah sinar rembulan. Namun, dengan mengoptimalkan jam kerja, misalnya, saat makan siang.

mendorong produktivitas kerja

Dengan mendorong karyawan untuk rehat sejenak dan menikmati makan siang bisa ternyata bisa membuat para profesional di kantor lebih produktif, energik, dan kreatif. Mengembangkan sebuah budaya yang sehat bagi karyawannya bisa membuat sebuah perusahaan lebih kuat. Sebagai seorang pemimpin, salah satu  hal yang bisa dilakukan perusahaan adalah membangun suatu budaya yang mendorong karyawannya untuk istirahat dan makan siang. Karena makanan bukan hanya untuk pengisi perut, namun juga memulihkan kembali ‘energi’ perusahaan secara keseluruhan.

Mendorong Produktivitas Kerja dengan Mengoptimalkan Jam Istirahat

Jam istirahat ternyata waktu yang sangat strategis untuk mendorong produktivitas kerja karyawan. Maksudnya bukanlah menyuruh karyawan bekerja di jam istirahat, namun sebaliknya, membiarkan mereka menikmati waktu rehat dan makan siang. Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh pimpinan?

Menjadi Teladan dengan Membiasakan Istirahat Makan Siang

Sebuah survey terbaru terhadap 500 pegawai profesional yang dilakukan oleh Sharebite menemukan bahwa 97% responden mengakatan bahwa istirahat makan siang membuat mereka merasa lebih baik. Namun, budaya kerja saat ini kerap bertentangan dengan hal ini. Sebagai contoh di Amerika Utara, bekerja keras kerap disamakan dengan bekerja nyaris tanpa istirahat.  Sekitar 43 persen responden pada survey tersebut mengatakan bahwa mereka terlalu sibuk, sehingga lupa makan. Sementara itu, 39% melewatkan makan siang dengan alasan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka secepat mungkin.

Meski lazim dan terkadang didukung oleh pimpinan, bekerja selama jam istirahat siang dengan alasan meningkatkan produktivitas adalah kekeliruan. Sebuah penelitian di Tahun 2019 oleh National Institute of Health menemukan bahwa pilihan nutrisi yang buruk merusak kesehatan mental dan fisik. Untuk menciptakan suatu suasana di mana karyawan bisa menjauh dari kertas kerjanya sementara, untuk makan, maka para pemimpin harus menjadi contoh teladannya. Ketika para eksekutif memprioritaskan makan siang, maka bawahan juga akan membiasakan budaya yang sama.

Partisipasi Karyawan Adalah Prioritas

Jika ingin mendorong produktivitas kerja, maka pastikan karyawan anda selalu terlibat aktif, sehingga mereka tidak merasa bosan dan tersisihkan. Namun, ini adalah tantangan besar bagi para pengusaha saat ini. Riset menunjukkan bahwa apa yang kita makan berpengaruh langsung terhadap fungsi otak. Studi Sharebite menemukan bahwa 64% karyawan melaporkan bahwa makan di tempat kerja memberi mereka energi untuk melanjutkan pekerjaan seharian, dan 51% karyawan sepakat bahwa istirahat makan siang membantu mereka untuk kembali fokus pada pekerjaan dan menjadi lebih produktif. Selain itu, 28% karyawan mengaku bahwa istirahat makan siang membuat mereka lebih kreatif.

Jadi, datanya jelas: Makan siang memperkaya suasana dan membuat kita lebih kuat untuk mengerjakan tugas-tugas baru. Namun, banyak pimpinan perusahaan yang tidak menyadari fakta bahwa makan siang adalah kunci untuk meningkatkan kreativitas dan mendorong produktivitas kerja. Layaknya semua resep hebat, kebiasaan ini perlu disebarluaskan.  Cobalah menarik minat karyawan dengan membagikan artikel yang menarik dan hasil-hasil riset tentang perlunya makan siang untuk meningkatkan dan menjaga kekuatan otak.

Kebutuhan Karyaan adalah yang Utama

Makanan di kantor memainkan peran ganda. Karyawan tidak hanya mencari tunjangan yang lebih besar. Mereka juga ‘lapar’ akan rasa memiliki yang lebih mendalam di lingkungan kerja yang kondusif. Banyak di antara kita yang memasuki dunia kerja sebelum pandemi memanfaatkan peluang untuk membangun hubungan personal (dan komunitas) dengan rekan-rekan kerja. Orang-orang yang masuk ke dunia kerja dalam dua tahun terakhir justri mendambakan peluang untuk mendapatkan pengalaman yang sama dan membangun rasa kebersamaan dengan rekan kerja.

Istirahat makan siang adalah peluang untuk membangun kembali hubungan dengan teman-teman dan kerabat. Mereka yang makan siang bersama teman-teman mengaku merasa mendapatkan dukungan lebih secara emosional dan sosial dari rekan-rekannya. Ikatan semacam ini tidak hanya membuat kita lebih bahagia dan lebih sehat, namun juga dapat meningkatkan kinerja di tempat kerja.

Di masa lalu, pergi ke kantor adalah kebiasaan kita sehari-hari. Namun saat ini, pergi ke kantor hanya sekali-kali bagi sebagian orang. Makanan adalah sesuatu yang dapat mengumpulkan orang. Jadi, cobalah mengatur jadwal makan siang yang berbeda untuk tim yang berbeda-beda. Bisa dipastikan, anda pada akhirnya mampu mengubah hubungan rekan-kerja menjadi hubungan persahabatan yang bermanfaat.

Tagged With :

Leave a Comment