Setelah 4 Hari Anjlok karena Isu Resesi, Wall Street Berakhir Menguat

Setelah empat hari mengalami penurunan, pada perdagangan hari Selasa (20/12) , Wall Street ditutup sedikit lebih menguat. Investor masih resah tentang lemahnya belanja liburan dan meningkatnya imbal hasil obligasi, menambah tekanan setelah perubahan mengejutkan kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ).

Kekhawatiran tentang rencana Federal Reserve (the Fed) untuk terus menaikkan suku bunga AS telah membebani ekuitas sejak pertemuan kebijakan the Fed minggu lalu. Investor juga mengkhawatirkan tentang musim pendapatan kuartal saat ini dan belanja liburan musim dingin.

Wakil Kepala Investasi BMO Family Office Carol Schleif menyebutkan, masyarakat lebih memilih membelanjakan uangnya untuk layanan jasa dan acara seperti penerbangan ke luar negeri, daripada membeli barang-barang.

Schleif mencatat bahwa investor waspada setelah tahun yang bergejolak dalam ekuitas dengan S&P berada di jalur penurunan tahunan terbesar sejak krisis keuangan 2008.

Dikutip dari Reuters (21/12), Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 92,2 poin, atau 0,28 persen, menjadi 32.849,74, S&P 500 (.SPX) naik 3,96 poin, atau 0,10 persen, menjadi 3.821,62 dan Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 1,08 poin, atau 0,01 persen, menjadi 10.547,11.

Di antara 11 sektor utama S&P 500, indeks energi (.SPNY) naik paling tinggi, ditutup naik 1,52 persen karena harga minyak mentah naik. Sementara dari 4 sektor yang turun, diskresi konsumen (.SPLRCD) adalah yang terlemah, berakhir turun 1,13 persen..

Dalam pendapatan tetap, harga surat utang negara AS turun setelah langkah mengejutkan BOJ, dengan imbal hasil surat utang negara 10 tahun naik ke level tertinggi tiga minggu di 3,71 persen.

Di bursa AS, 10,52 miliar saham berpindah tangan, dibandingkan dengan rata-rata 11,15 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir.

DIPREDIKSI MENGUAT

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat pada perdagangan hari Rabu (21/12). Pada perdagangan hari Selasa (20/12), IHSG ditutup melemah 11,382 poin (0,17 persen) ke level 6.738,316.

CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas William Surya Wijaya memperkirakan IHSG berada di rentang 6.672-6.856. Perkembangan pergerakan saham saat ini terlihat masih berada dalam rentang sideways dengan potensi penguatan terbatas.

“Capital inflow secara ytd masih menjadi salah satu faktor yang menopang IHSG hingga saat ini. Selain daripada itu, kinerja emiten juga memberikan kontribusi terhadap pergerakan IHSG,” kata William, Rabu (21/12).

Sedangkan tim riset MNC Sekuritas memproyeksi IHSG berada di level support 6.607 dan 6.641, serta resistance di 6.838 dan 6.892.

“Selama IHSG masih mampu bergerak di atas 6.641 sebagai stop loss-nya, maka diperkirakan IHSG masih berpeluang menguat untuk menguji 6.854-6.896 untuk membentuk wave iv dari wave c dari wave (y) pada label hitam,” tulis MNC Sekuritas dalam risetnya.

Atau pada skenario alternatifnya, MNC Sekuritas mencermati posisi IHSG sedang berada pada bagian dari wave c dari wave (x) ke arah 6,982. Namun demikian, yang perlu diperhatikan adalah pergerakan IHSG diperkirakan masih berada pada fase bearish-nya.

Tim riset MNC Sekuritas merekomendasikan beberapa saham, yaitu BBRI, INDF dan KLBF.

  1. BBRI

Recommendation: Buy on Weakness

Target Price: 5.000, 5.120

Stop loss: below 4.820

  1. INDF

Recommendation: Buy on Weakness

Target Price: 7.100, 7.200

Stop loss: below 6.650

  1. KLBF

Recommendation: Spec Buy

Target Price: 2.200, 2.270

Stop loss: below 2.020

 

Leave a Comment