Imbas Kebijakan Nol-COVID oleh China, Wall Street Ditutup Melemah Tajam

Unjuk rasa di kota-kota besar China terkait kebijakan menekan COVID-19 yang diperketat berimbas pada pelemahan tajam Indeks saham utama Wall Street pada perdagangan yang ditutup Senin (28/11/2022)

Hal tersebut kemudian memicu kekhawatiran pertumbuhan ekonomi, terutama pada saham berbasis teknologi seperti Apple Inc (AAPL.O) dan S&P 500 (.SPX).

Dikutip dari Reuters (29/11), S&P 500 turun 1,54 persen untuk mengakhiri sesi di 3.963,95 poin. Nasdaq Composite Index (.IXIC) turun 1,58 persen menjadi 11.049,50 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 1,45 persen menjadi 33.849,46 poin.

Unjuk rasa di kota-kota besar China yang menolak kebijakan Nol-COVID memperburuk ekonomi Tirai Bambu tersebut. Menurut Tom Hainlin, ahli strategi investasi nasional di US Bank Wealth Management di Minneapolis, kebijakan China adalah salah satu variabel kunci yang mempengaruhi harga saham dan investor, terutama di 2023.

Menurut dia, selama pemerintah terus membatasi aktivitas ekonomi masyarakat China, kemungkinan besar indeks akan turun secara menyeluruh.

Hal ini ditunjukkan dengan 11 indeks sektor S&P 500 turun, dipimpin oleh real estate (.SPLRCR), turun 2,81 persen, dan kerugian energi 2,74 persen (.SPNY).

Terkecuali untuk saham Amazon.com Inc (AMZN.O) yang naik 0,6 persen setelah laporan industri memperkirakan pengeluaran selama Cyber Monday, hari belanja online terbesar di AS, akan naik sebanyak USD 11,6 miliar.

Minggu ini, investor akan mencermati data kepercayaan konsumen AS bulan November, yang akan dirilis pada hari Selasa; perkiraan kedua pemerintah untuk produk domestik bruto kuartal ketiga, akan dirilis pada hari Rabu; dan nonfarm payrolls November jatuh tempo pada hari Jumat.

Penurunan saham melebihi jumlah yang meningkat dalam S&P 500 (.AD.SPX) dengan rasio 12,2 banding satu.

S&P 500 membukukan 12 tertinggi baru dan dua terendah baru; Nasdaq mencatat 93 tertinggi baru dan 174 terendah baru.

Volume di bursa AS relatif ringan, dengan 9,3 miliar saham diperdagangkan, dibandingkan dengan rata-rata 11,3 miliar saham selama 20 sesi sebelumnya.

DIPREDIKSI MELEMAH

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan hari Selasa (29/11). Pada hari Senin, IHSG ditutup melemah 35,792 poin (0,51 persen) ke level 7.017,358.

Analis Bina Artha Sekuritas, Ivan Rosanova, memperkirakan support indeks saham berada di level 6.988, 6.937 dan 6.892, sementara level resistennya di 7.100, 7.128-7.137 dan 7.200.

“IHSG diperkirakan akan menguji zona support 6.978-6.988 karena ditutup di bawah garis SMA-20 pada hari Senin. Adanya pelemahan ke bawah zona support tersebut dapat memicu koreksi menuju Fibonacci retracement 50 persen dari wave pada skenario biru di level 6.937,” tulis Ivan dalam risetnya, Selasa (29/11).

Sementara itu, CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Surya Wijaya, mengatakan perkembangan pola gerak IHSG masih menunjukkan pola tekanan terbatas.

Masih minimnya sentimen yang dapat mendorong kenaikan IHSG masih menjadi tantangan tersendiri bagi emiten yang berada dalam pasar modal.

“Sedangkan momentum tekanan merupakan momentum berharga bagi investor jangka menengah dan panjang karena harapan akan kondisi yang kian membaik hingga akhir tahun,” kata William.

Adapun beberapa rekomendasi saham oleh Ivan, antara lain:

  1. ADRO Recommendation: Accumulative Buy Target Price: 3.850 Price Range: 3.620 – 3.670

 

  1. ARTO Recommendation: Accumulative Buy Target Price: 5.500 Price Range: 4.700 – 4.800
  2. BMRI

Recommendation: Trading Buy Target Price: 10.450 Price Range: 9.950 – 10.050

  1. HRUM

Recommendation: Buy On Weakness Target Price: 1.700 Price Range: 1.550 – 1.600

  1. INCO

Recommendation: Buy On Weakness Target Price: 7.500 Price Range: 6.750 – 6.900.

 

Leave a Comment