Investor Khawatir Kenaikan Suku Bunga The Fed, Wall Street Ditutup Melemah

Pada perdagangan, Kamis (17/11/2022), indeks utama saham Amerika Serikat (AS), Wall Street ditutup lebih rendah. Hal tersebut seiring pejabat bank sentral, Federal Reserve AS berkomentar hawkish serta data pasar tenaga kerja yang tetap ketat, sehingga membuat sebagian investor khawatir tentang kenaikan suku bunga yang lebih agresif.

Mengutip Reuters, Jumat (18/11), Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 7,51 poin (0,02 persen) menjadi 33.546,32. S&P 500 kehilangan 12,23 poin (0,31 persen) menjadi 3.946,56 dan Nasdaq Composite turun 38,7 poin (0,35 persen) menjadi 11.144,96.

Data menunjukkan jumlah masyarakat AS yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran turun di minggu lalu. Hal ini menunjukkan pasar tenaga kerja tetap ketat.

Laporan pada Rabu (16/11) merinci, pertumbuhan penjualan ritel yang kuat pada bulan lalu juga menunjukkan ekonomi telah tumbuh melewati kenaikan suku bunga.

Namun Presiden Fed St Louis, James Bullard mengatakan, bank sentral masih perlu menaikkan suku bunga, mengingat bahwa pengetatan sejauh ini dampaknya hanya terbatas pada inflasi.

“The Fed masih membicarakan suku bunga secara umum. Mungkin ada beberapa ketidaksepakatan tentang kecepatan (kenaikan suku bunga), tapi suku bunga tidak akan turun dalam waktu dekat,” ujar manajer portofolio Kingsview Investment Management di Chicago, Paul Nolte.

Kepercayaan pelaku pasar tentang kenaikan 75 basis poin pada pertemuan The Fed berikutnya naik menjadi 19 persen dari sekitar 15 persen sehari sebelumnya, menurut CME Group’s FedWatch. Sebagian besar investor masih mengharapkan kenaikan 50 basis poin.

Wall street memang telah anjlok beberapa hari terakhir setelah reli kuat selama sebulan, didorong oleh rilis inflasi yang lebih rendah dari perkiraan, sehingga meningkatkan harapan The Fed menaikkan suku bunga. Kerugian pada saham berkurang di akhir sesi, namun indeks utama masih berakhir di wilayah negatif.

MENGUAT

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat pada perdagangan hari Jumat (18/11). Pada hari Kamis (17/11), IHSG menguat 0,43 persen dan ditutup di level 7.044,98.

Research Analyst Artha Sekuritas Indonesia, Dennies Christopher, memperkirakan support indeks saham di rentang 6.934-6.989 serta resistance di level 7.075-7.106.

“Secara teknikal candlestick membentuk hanging man dengan stochastic mendekati area oversold mengindikasikan potensi rebound jangka pendek,” kata Dennies dalam risetnya, Jumat (18/11).

Menurut dia, pergerakan IHSG didorong optimisme kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) ke level 5,25 persen di November 2022. Adapun pergerakan ini juga dinilai cukup baik demi mengantisipasi kenaikan Fed Funds Rate di bulan depan.

“Pergerakan yang dinilai cukup baik untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Desember,” ungkapnya

Hal senada diungkapkan juga oleh CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Surya Wijaya, pola gerak IHSG setelah rilis data perekonomian tingkat suku bunga menunjukkan adanya kenaikan. Kenaikan suku bunga juga tentunya memberikan sentimen positif bagi pergerakan IHSG.

“Kenaikan juga ditunjang oleh capital inflow yang masih tercatat secara year-to-date (ytd),” jelas William.

Meski begitu, selama IHSG belum mampu ditutup di atas resisten level terdekat, maka dalam beberapa waktu mendatang IHSG masih akan cenderung bergerak dalam rentang sideways dengan potensi kenaikan terbatas.

Selain itu, para investor asing hingga saat ini masih mencatatkan capital inflow secara year-to-date (ytd) yang masih menunjukkan minat investor terhadap pasar modal Indonesia.

“Hari ini IHSG berpotensi menguat,” ungkapnya.

Beberapa saham lainnya yang direkomendasikan oleh William adalah BBCA, ASII, INDF, ITMG, BBRI, HMSP, TBIG dan ASRI.

Sementara rekomendasi saham dari Dennies adalah ADHI, BBRI dan MDKA.

 

Leave a Comment