Bagaimana Menghadapi Kegagalan Bisnis dan Mengubahnya Menjadi Peluang?

Ketika kita melihat nama-nama produk perlengkapan rumah tangga yang ada saat ini, kita terkadang berfikir betapa kreatif dan inovatifnya para pengusaha di belakang mereka. Saat ini, kita bisa menghubungkan Apple iPhone ke mobil Tesla dan mendapatkan berita-berita terbaru dari Twitter.  Kita mungkin memandang perusahaan-perusahaan ini sebagai lambang kesuksesan di abad ke-21. Namun, kita terkadang lupa bahwa ide-ide revolusioner dari para pengusaha sukses tersebut tidak sedikit yang dilatarbelakangi ribuan kegagalan sebelumnya. Namun, mereka bisa menghadapi kegagalan bisnis secara positif dan menjadikannya cambuk menuju kesuksesan dengan mengubah cara pandangnya.

Inovasi ada karena adanya masalah, dan pengusahalah yang mengidentifikasi masalah-masalah ini dan bekerja untuk menyelesaikan. Perusahaan jugalah yang bertanggung jawab untuk menghasilkan inovasi. Namun, sekali lagi, di belakang setiap cerita sukses selalu ada daftar sejumlah kegagalan.

menghadapi kegagalan bisnis

Menghadapi Kegagalan Bisnis: Beberapa Contoh Kasus

James Dyson, pendiri Dyson yang terkenal di seluruh dunia, adalah salah satu contoh pengusaha yang mengambil pelajaran berharga dari upaya mengatasi kegagalan. Dyson berusaha menyelesaikan permasalahan vacuum berkantong yang tidak efisien, karena kehilangan daya hisapnya seiring waktu. Masalah seperti ini lazim terjadi dan belum terselesaikan selama bertahun-tahun. Dyson merancang dan menguji 6.127 prototipe selama periode 5 tahun sebelum akhirnya berhasil memecahkan kode dan menghasilkan vacuum yang berfungsi dengan baik.

Hasilnya adalah G-Force yang diproduksi Tahun 1983, sebuah sistem vacuum baru yang popularitasnya meroket setelah peluncuran di Jepang. Itu adalah bagian dari sejarahnya, bukan? Namun sesungguhnya, kesuksesan Dyson jauh dari kata mudah. Sebelumnya, produk vacuum Dyson di tolak di United Kingdom oleh hampir seluruh retail besar. Kenapa? Perusahaan menyelesaikan masalahnya dengan terlalu mudah, yakni membuat vacuum tanpa kantong.

Vacuum tanpa kantong dipandang sebagai ancaman terhadap kelangsungan bisnis di sektor ini. Berhasil menyelesaikan satu masalah bisa berarti kesuksesan, namun bisa juga memicu masalah lain. Dyson tidak menyerah. Dyson kemudian membuat perusahaan manufaktur sendiri. Saat ini, perusahaan ini sudah menjadi brand produk rumah tangga skala global. Daripada menggantungkan pemasaran kepada retail, perusahaan memiliki model bisnis D2C (Direct to Customer), yakni mendistribusikan produknya langsung ke konsumen. Dyson berhasil menghadapi kegagalan bisnisnya dan mengubahnya menjadi peluang. Peluang-peluang yang sama sesungguhnya tersedia bagi seluruh inovator di dunia, jika saja kita memperhatikannya.

Menghadapi Kegagalan Bisnis dan Membalikkannya Menjadi Inovasi

Cara menghadapi kegagalan bisnis yang paling baik adalah membalikkan keadaan dan menjadikannya sebagai peluang dan inovasi. Beberapa fakta berikut mungkin dapat mengubah persepsi anda selama ini tentang kegagalan:

Setiap kegagalan mengandung pelajaran yang berharga

Anda mungkin pernah mendengar pepatah, “Kegagalan bukanlah sebuah pilihan.” Namun, di dunia inovasi, kegagalan sangat penting artinya. Untuk menciptakan sesuatu yang baru, anda harus berani gagal, dan sering gagal. Kuncinya adalah mengubah kegagalan bisnis menjadi sebuah peluang untuk belajar. Apa kesalahan yang sudah kita lakukan? Apa yang bisa anda ubah di masa mendatang? Bagaimana anda bisa memperbaiki ide-ide anda? Unsur apa dari ide saat ini yang bisa melahirkan ide baru?

Ketika anda mulai memandang kegagalan sebagai peluang untuk belajar, maka rasanya tidak akan begitu menyesakkan. Bersama setiap pelajaran baru, anda membawa diri anda selangkah lebih dekat menuju kesuksesan.

Kegagalan adalah awal dari cerita sukses anda

Bisakah anda bayangkan apa yang dirasakan James Dyson jika cerita suksesnya di Jepang sebelumnya adalah kegagalan di United Kingdom? Bagi sebagian pengusaha, mudah saja untuk menyerah. Namun, Dyson sudah meraih level kesuksesan tertentu. Ia tidak menyerah. Sebaliknya, ia memanfaatkan kegagalan itu dan membalikkan kondisinya, memulai bab baru dalam kisahnya. Ia menghadapi kegagalan bisnis dan mengubahnya menjadi inovasi, melihatnya sebagai peluang untuk memulai sesuatu yang baru, bukannya sebagai indikasi untuk menyerah.

Tanyakan kepada diri anda, apa yang mungkin bisa muncul dari kegagalan ini? Apa peluang baru yang sudah diciptakan? Bagaimana anda bisa belajar untuk memulai sesuatu secara lebih baik?

Percobaan pertama mungkin tidak sempurna, namun tidak apa-apa

Bagi pengusaha, kegagalan mungkin saja ditemukan setiap hari. Produk dan jasa pertama yang dihasilkan kerap tidak berjalan sesuai harapan. Akibatnya, banyak pengusaha pemula yang menyerah sejak dini. Namun sebenarnya, percobaan pertama anda tidak mesti sempurna. Faktanya, di sinilah anda mencoba berinovasi! Tujuannya adalah menciptakaan sesuatu yang baru dan lebih baik dari apa yang sudah ada, bukannya menggantikannya.

Cobalah bertanya pada para inovator sukses, dan mungkin, anda akan mendengar hal yang sama: produk pertama mereka jauh dari sempurna. Ide pertama mereka bisa jadi produk atau jasa di bidang yang jauh berbeda. Masalahnya adalah mereka mengambil langkah pertama, belajar dari kegagalan, dan terus bergerak maju, karena mereka memandang potensi di balik ide yang tidak sempurna tersebut.

Jadi, jika anda menghadapi kegagalan, jangan menyerah. Lihatlah kegagalan tersebut sebagai peluang untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik. Anda tidak pernah tahu. Kegagalan pertama bisa saja menjadi batu loncatan untuk kesuksesan terbesar anda.

Tagged With :

Leave a Comment