Ditopang oleh dukungan teknis dan investor yang mendorong rebound dari aksi jual pada hari sebelumnya, Wall Street melonjak lebih dari 2 persen dibandingkan pada penutupan sesi Kamis (13/10/2022).
Kenaikan Wall Street terjadi di tengah inflasi Amerika Serikat per September 2022 mencapai 8,2 persen secara tahunan (year on year) dan secara bulanan (month on month) sebesar 0,4 persen yang diumumkan di hari yang sama.
Mengutip dari Reuters, Jumat (14/10), Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 827,87 poin atau 2,83 persen menjadi 30.038,72, S&P 500 (.SPX) naik 92,88 poin atau 2,60 persen menjadi 3.669,91 dan Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 232,05 poin, atau 2,23 persen menjadi 10.649,15.
Bangkitnya Wall Street menandai kenaikan indeks S&P 500 sebesar 194 poin dari level terendah menuju level tertinggi, sejak 24 Januari 2022.
Reuters menyebut awalnya Wall Street bergerak turun usai pengumuman inflasi AS 8,2 persen. Sebab awalnya banyak pihak memprediksi laju inflasi hanya di 8,1 persen.
Kepala Strategi Investasi Baker Avenue Asset Management King Lip mengatakan orang-orang mungkin mengambil keuntungan pendek dengan masuk ke laporan Indeks Harga Konsumen (CPI). Mereka juga mulai melihat hasil laporan yang negatif dan mulai menutupi kekurangannya.
Beberapa ahli strategi juga menunjuk ke beberapa level dukungan teknikal di sekitar angka 3.500 untuk S&P 500. Lip menyebut bahwa aksi jual tajam baru-baru ini di saham mungkin berarti berita buruk mungkin telah diabaikan.
“Memasuki musim laporan keuangan perusahaan, yang kami (investor) butuhkan hanyalah hal-hal yang tidak seburuk yang diduga,” ujarnya.
DIPREDIKSI MELEMAH
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan hari Jumat (14/10). Pada perdagangan hari Kamis (13/10), IHSG ditutup melemah 28,584 poin (0,41 persen) di level 6.880,625.
Research Analyst Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christopher memperkirakan support IHSG berada di level 6.791-6.844, dan resistance di kisaran 6.897-6.950.
“Candlestick membentuk lower high dan lower low dengan stochastic pada area oversold mengindikasikan tren pelemahan dengan rentang yang terbatas,” tulis Dennies dalam risetnya, Kamis (13/10).
Dennies menyebut, investor mencermati beberapa rilis data ekonomi dari Amerika Serikat serta tekanan dari aksi jual atas pernyataan The Fed terkait kebijakan suku bunga.
Inflasi Amerika Serikat pada September 2022 dilaporkan mencapai 8,2 persen secara tahunan (year on year) dan secara bulanan (month to month) sebesar 0,4 persen yang diumumkan pada Kamis waktu AS.
Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan para analis dan ekonom, yang memperkirakan inflasi pada September 2022 hanya akan menyentuh 8,1 persen.
Sementara itu, CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan IHSG terlihat masih berada dalam fase konsolidasi wajar dengan pola tekanan yang masih tergolong besar. Sedangkan tekanan yang terjadi dalam pergerakan IHSG saat ini terlihat masih dipengaruhi oleh sentimen dari pergerakan nilai tukar rupiah.
“Pola gerak market masih terlihat memiliki potensi bergerak sideways dalam jangka pendek, namun selama support level masih dapat dipertahankan dengan kuat, maka momentum fluktuatif harga masih dapat dimanfaatkan oleh investor untuk melakukan trading harian,” kata William.
Tingginya inflasi AS juga akan mempengaruhi rupiah. Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan mata uang rupiah kemungkinan dibuka fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp 15.340 hingga Rp 15.400.
Berikut rekomendasi saham dari Yugen PTBA dan SSMS:
- PTBA
Recommendation: Specific Buy
Entry Range: 4.210-4.270
Buy Price: 4.260
Target Price Range: 4.340-4.440
Stop Loss: 4.180
- SSMS
Recommendation: Specific Buy
Entry Range: 1.350-1.380
Buy Price: 1.375
Target Price Range: 1.450-1.480
Stop Loss: 1.330