Gaya Kepemimpinan Ambivert Relevan di Era New Normal?

Berbicara tentang gaya kepemimpinan, apakah dipengaruh oleh tipe kepribadian anda? Apakah seorang introvert lebih baik ketika menjadi seorang pemimpin dibanding seorang extrovert, atau sebaliknya? Suatu hal yang mengejutkan bahwa sejumlah pakar percaya bahwa kepribadian campuran, yang dikenal dengan ambivert, justru menguntungkan bagi anda yang bekerja di kantoran. Lalu, bagaimana anda bisa tahu kalau anda seorang introvert, extrovert, atau keduanya?

Gaya Kepemimpinan Seorang Introvert vs Introvert

Masing-masing kepribadian memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Siapa yang lebih baik masih selalu menjadi perdebatan. Sebagian mengatakan bahwa para netizen lebih menyukai kepribadian introvert. Kepribadian ini justru dianggap keren, terutama selama masa pandemi. Masa ketika setiap orang dianjurkan untuk menjaga jarak fisik satu sama lain justru cocok bagi orang-orang berkepribadian introvert.

Gaya kepemimpinan ambivert

Masa ini seperti imbal-balik dari trend yang selama ini selalu berpihak kepada kepribadian extrovert, terutama di negara-negara Barat. Di masa lalu, orang berkepribadian extrovert lebih disukai di lingkungan kerja, karena mereka mampu menggunakan keahlian alamiahnya saat berhubungan dengan orang lain. Di masa pandemi ini, trend-nya justru berbeda. Banyak yang lebih menyukai gaya kepemimpinan introvert.

Sejumlah penelitian justru menunjukkan bahwa para introvert bisa lebih bersinar sebagai pemimpin dibanding para extrovert, meskipun orang-orang berkepribadian extrovert diyakini lebih percaya diri dan memenuhi kriteria sebagai CEO yang sempurna. Lalu, yang mana sebenarnya? Siapa yang memiliki keunggulan dan siapa yang lebih sukses di tempat kerja?

Sepertinya, jawabannya adalah orang yang bisa keduanya, yakni: ambivert yang sifatnya seperti bunglon. Jika kedua jenis kepribadian ini dipadukan, anda bisa menjadi orang sukses di tempat kerja. Setidaknya itu pendapat para ahli. Meskipun bertindak extrovert sekaligus introvert mungkin terasa rumit, namun ini adalah keahlian yang bisa dikuasai semua orang, dengan sedikit praktek.

Keuntungan Gaya Kepemimpinan Ambivert Menurut Studi

Adam Grant

Seorang profesor psikologi di University of Pennsylvania bernama Adam Grant melaporkan hasil sebuah study yang dilakukan di Tahun 2013 bahwa seorang extrovert lebih sukses dan produktif di bidang penjualan. Setelah melakukan penelitian terhadap 340 karyawan yang bekerja di call center, ia menemukan bahwa karyawan yang bisa mendapat lebih banyak penghasilan justru mereka yang masuk kategori extrovert tingkat menengah. Sebaliknya, mereka yang kinerjanya paling buruk justru orang yang sangat introvert atau sangat extrovert.

Karena mereka memiliki pola berbicara dan mendengar yang fleksibel, para ambivert bisa mengungkapkan rasa antusiasme untuk meyakinkan orang lain. Namun menurut Grant, para ambivert juga lebih cenderung mendengar keinginan konsumen. Mereka tidak menunjukkan rasa senang yang berlebihan atau rasa percaya diri yang berlebihan. Itulah sebabnya mereka berpeluang sukses di tempat kerjanya, karena bisa menempatkan diri di posisi tengah.

Karl Moore

Satu lagi pakar yang tertarik meneliti tentang gaya kepemimpinan dan kepribadian pada ambivert adalah Karl Moore, seorang profesor manajemen di McGill Univeristy. Moore meneliti para ambivert selama bertahun-tahun, dan ia memperkirakan bahwa di masa lalu, 40% dari para pemimpin tertinggi di perusahaan adalah extrovert, 40% merupakan introvert, dan 20% lagi merupakan ambivert. Namun, ia percaya bahwa lingkungan yang tercipta akibat pandemi di seluruh dunia justru memaksa para pemimpin saat ini untuk bisa bertindak sebagai ambivert.

Dalam sebuah buku yang akan diterbitkannya, We Are All Ambiverts Now, Moore mengatakan bahwa para pemimpin saat ini dituntut untuk bisa bertindak keduanya, yakni menjadi extrovert dan introvert. Misalnya, para boss harus mendengar dan merespon kebutuhan karyawan agar bisa menciptakan lingkungan kerja yang fleksibel dan empatik bagi stafnya. Namun, mereka juga harus menunjukkan antusiasme yang jelas dan memandu tim dengan baik.

Akibat pandemi, para CEO harus banyak mendengar. Menurut Moore, seorang pemimpin yang baik adalah pendengar yang baik. Namun, mereka juga harus tampil sebagai orang yang menginspirasi.

Gaya Kepemimpinan Ambivert dalam Beradaptasi

Menurut para pakar, menjadi seorang ambivert adalah hal baik. Namun, bagaimana caranya? Sebenarnya, para ahli percaya bahwa siapa saja bisa menjadi seorang ambivert. Kebanyakan test kepribadian akan menempatkan anda pada posisi extrovert sedang. Jadi, semua orang bisa saja menjadi seorang ambivert.

Gaya kepemimpinan seorang ambivert lebih adaptif. Ia bisa menyesuaikan diri dengan situasi. Fokus anda bukanlah mengatasi kelemahan, namun mendorong kelebihan anda, sehingga anda bisa keluar dari zona nyaman selama ini. Selain itu, bukan hanya seorang CEO yang diuntungkan dari kondisi ini. Jadi, di tahap apapun karir anda saat ini, mulailah mempelajari keahlian menjadi seorang ambivert, dan hal itu akan menguntungkan anda kelak.

Sederhananya, untuk menjadi seorang ambivert, seorang extrovert harus mencoba menahan diri agar lebih tenang di setiap pertemuan. Sebaliknya, seorang introvert harus berusaha berkontribusi lebih di setiap pertemuan. Gaya kepemimpinan seorang ambivert dinilai spesifik: mendengar lebih lama, mengajukan lebih dari satu pertanyaan, atau mendengar jawaban orang lain.

Tagged With :

Leave a Comment