3 Langkah Mengantisipasi Risiko Hacking Platform Trading Online

Tak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa semua software itu rentan terhadap peretasan (hacking). Tak terkecuali, platform trading online yang lazim digunakan untuk transaksi forex, saham, dan lain sebagainya. Bagaimana kita dapat mengantisipasi risiko hacking platform trading yang berpotensi menimbulkan kerugian jutaan Rupiah ini?

Trading Forex Menggunakan Android

Menurut sebuah hasil riset yang diumumkan oleh perusahaan keamanan siber IOActive pada Agustus 2018, platform trading online seperti AvaTrade, IQOption, dan Markets.com bahkan memiliki pengamanan lebih minim dibandingkan aplikasi perbankan umum. Mereka melakukan riset atas 16 aplikasi desktop, 34 aplikasi mobile, dan 30 website dalam setahun, kemudian mendapatkan sejumlah simpulan yang mengejutkan.

Sekitar seperlima diantaranya menyimpan password tanpa enkripsi. Sekitar seperempat diantaranya tak memanfaatkan autentikasi dua faktor. Hampir dua pertiga hanya meng-enkripsi sebagian komunikasi saja. Bahkan 13 aplikasi desktop dan mobile menyimpan data perdagangan tanpa enskripsi sama sekali! Padahal, hacker bisa memanfaatkan kerentanan ini untuk melakukan pencurian saldo akun, memata-matai perubahan akun, atau bahkan mengutak-atik kuotasi harga yang ditampilkan pada platform trading.

Sejak dirilisnya laporan itu hingga pertengahan tahun 2019 ini, sejumlah broker telah melakukan perbaikan atas perangkat keamanan platform tradingnya. Namun, kita sebagai trader juga perlu mengambil tindakan pengamanan sendiri. Langkah apa saja yang bisa diambil?

  1. Pasang autentikasi dua faktor (two-factor authentication) . Jika broker belum menyediakannya, maka desak agar mereka mau memberikan fitur tersebut. Atau, lebih baik lagi, pilih broker yang sudah jelas menyediakan fitur tersebut.
  2. Gunakan satu komputer/laptop atau gadget saja untuk mengakses platform trading. Semakin banyak perangkat yang terhubung dengan platform, maka makin rentan terkena hacking.
  3. Berhati-hatilah jika diminta meng-klik suatu link dalam email atau mengisi data trading pada suatu formulir dari situs yang tidak dikenal. Meski kebanyakan diantaranya merupakan pesan resmi dari broker, tetapi tak jarang pula merupakan pancingan phising untuk mencaplok akun trading kita dengan berkedok link mirip alamat situs broker.
Baca Juga:   Barnier: Progres Kesepakatan Brexit Sudah 85%, GBPUSD Melesat

Akhir kata, saat memilih broker, sebaiknya kita tak hanya tergiur oleh iming-iming bonusnya saja, melainkan juga menelisik fitur keamanannya. Jangan sampai kita malah menanggung kerugian saat mengejar keuntungan yang besarnya tak seberapa.

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar