Berdasarkan data dan analisis yang bersumber dari laporan riset pasar modal tersebut, berikut adalah penjelasan mendalam mengenai proyeksi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), indikator makroekonomi yang mempengaruhinya, serta rekomendasi saham pilihan untuk perdagangan hari Rabu (3/6):
Analisis Teknis dan Proyeksi Pergerakan IHSG
-
Tren Positif Jangka Pendek (Phintraco Sekuritas): IHSG diproyeksikan akan melanjutkan tren penguatannya pada hari Rabu (3/6). Optimisme ini muncul setelah pada perdagangan hari Selasa (2/6), indeks berhasil ditutup menguat signifikan sebesar +1,11 persen dan parkir di level 6.195,43.
-
Indikator Teknis yang Mendukung: Secara teknikal, posisi IHSG saat ini terpantau masih kokoh bertahan di atas Moving Average 5 hari (MA5). Penguatan ini dipertegas oleh histogram MACD negatif yang terus mengalami penyempitan, serta indikator Stochastic RSI yang mulai bergerak menuju area pivot. Kondisi ini mengindikasikan adanya momentum akumulasi beli yang cukup kuat di pasar.
-
Target Resisten Menurut Phintraco: Dengan indikator teknis yang cenderung berbalik positif, analis memprediksi bahwa IHSG berpotensi besar untuk menguji rentang area resisten berikutnya yang berada di level 6.220 hingga 6.280.
-
Perspektif Gelombang Pasar (MNC Sekuritas): Di sisi lain, analis MNC Sekuritas menilai pergerakan IHSG pada penutupan hari Selasa sebenarnya cenderung bergerak mendatar (sideways). Berdasarkan analisis teknikal Elliott Wave, posisi pergerakan IHSG saat ini diperkirakan sedang berada di bagian dari wave [v] dari wave A dari wave (2) pada label hitam.
-
Target Penguatan dan Batas Koreksi Menurut MNC: Melalui pendekatan gelombang tersebut, MNC Sekuritas memproyeksikan area penguatan IHSG yang lebih tinggi, yaitu berpotensi menguji rentang 6.362 hingga 6.484. Namun, pelaku pasar juga diminta waspada terhadap area koreksi terdekat yang dipasang pada level 5.899 sampai 6.080.
Kondisi Fundamental dan Makroekonomi Domestik
-
Kenaikan Laju Inflasi Tahunan: Dari sektor fundamental dalam negeri, Indonesia mencatatkan peningkatan inflasi tahunan menjadi sebesar 3,08 persen secara year on year (YoY) pada bulan Mei 2026. Angka ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya yang berada di level 2,42 persen YoY.
-
Sektor Pangan sebagai Pemicu Utama: Kelompok makanan dan bahan pangan menjadi kontributor atau penyumbang terbesar terhadap lonjakan inflasi ini, dengan pertumbuhan harga yang mencapai 4,94 persen YoY. Kenaikan mencolok ini dipicu oleh melonjaknya harga-harga bahan pokok di pasar serta meningkatnya biaya jalur distribusi logistik.
-
Kenaikan Inflasi Inti: Sejalan dengan inflasi umum, inflasi inti Indonesia juga merangkak naik menjadi 2,59 persen YoY pada Mei 2026, dari posisi bulan sebelumnya yang sebesar 2,44 persen YoY. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan permintaan domestik yang relatif stabil.
-
Sikap dan Kebijakan Bank Indonesia: Meskipun mengalami kenaikan, Phintraco Sekuritas memastikan bahwa tingkat inflasi ini sebenarnya masih berada di dalam koridor aman target sasaran Bank Indonesia (BI), yaitu di rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen. Kendati demikian, apabila inflasi terus menguat tanpa kendali dan disertai dengan pelemahan nilai tukar Rupiah yang semakin dalam, maka BI diproyeksikan akan kembali mengerek suku bunga acuannya.
-
Stabilitas Aktivitas Manufaktur (PMI): Kabar positif datang dari sektor riil, di mana aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level ekspansif 50 pada Mei 2026 dari level kontraksi 49,1 pada April 2026. Hal ini menandakan kondisi operasional pabrik mulai stabil, didorong oleh peningkatan pesanan baru selama dua bulan berturut-turut, meskipun pesanan ekspor masih agak terhambat oleh konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah.
Kinerja Sektor Eksternal dan Perdagangan Internasional
-
Penyusutan Surplus Neraca Perdagangan: Pada sektor eksternal, Indonesia mencatatkan penyusutan tajam pada surplus neraca perdagangan menjadi hanya sebesar USD 0,09 miliar pada April 2026. Angka ini merosot jauh jika dibandingkan dengan surplus bulan Maret 2026 yang mencapai USD 3,32 miliar, maupun surplus USD 0,20 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pencapaian ini sekaligus menjadi rekor surplus terendah sejak bulan April 2020.
-
Lonjakan Nilai Impor Terutama Migas: Faktor utama yang menyebabkan menyusutnya surplus perdagangan ini adalah lonjakan nilai impor yang tumbuh hingga 22,5 persen YoY. Secara spesifik, impor sektor minyak dan gas bumi (migas) meroket tajam sebesar 85,52 persen, yang salah satunya disebabkan oleh kenaikan harga minyak mentah dunia. Sementara itu, impor non-migas juga turut mengalami pertumbuhan sebesar 14,11 persen.
-
Pertumbuhan Ekspor yang Impresif: Di sisi lain, kinerja ekspor Indonesia sebenarnya menunjukkan performa yang sangat impresif dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 21,98 persen YoY pada April 2026. Realisasi ini berbalik arah secara positif setelah pada bulan Maret 2026 sempat mengalami kontraksi sebesar 3,1 persen. Pertumbuhan ekspor pada April ini bahkan tercatat sebagai yang tertinggi sejak bulan Agustus 2022.
Rekomendasi Saham Pilihan Analis
Berdasarkan pertimbangan analisis teknikal dan sentimen pasar di atas, para analis dari kedua sekuritas merekomendasikan beberapa saham yang menarik untuk dicermati oleh para investor sepanjang perdagangan hari Rabu (3/6):
| Sekuritas Rekomendator | Daftar Saham Pilihan (Watchlist) |
| Phintraco Sekuritas | AMRT, ENRG, SMGR, SUPA, dan SCMA |
| MNC Sekuritas | BRPT, IMPC, INCO, dan KLBF |
Catatan Penting (Disclaimer): Seluruh keputusan investasi dan perdagangan saham sepenuhnya berada di tangan masing-masing pembaca. Ringkasan riset ini bersifat informasi perkembangan pasar dan sama sekali bukan merupakan bentuk ajakan atau paksaan untuk membeli, menjual, ataupun menahan instrumen investasi tertentu.