Kondisi pasar modal Indonesia pada pembukaan pekan pertama Februari 2026 ini memang cukup mengguncang nyali para investor. Penurunan tajam yang hampir menyentuh batas auto rejection bawah secara sistemik ini mencerminkan tingginya volatilitas pasar.
Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai situasi IHSG dan daftar saham yang menjadi penopang di tengah kepanikan pasar:
Analisis Penurunan Tajam IHSG
-
Koreksi Drastis di Zona Merah: IHSG mencatatkan rapor merah yang signifikan pada perdagangan Senin (2/2/2026). Penurunan sebesar 4,88% atau setara dengan hilangnya 406,88 poin membawa indeks ke level 7.922,73. Penurunan yang sempat menembus angka 5% menunjukkan adanya tekanan jual masif di pasar.
-
Kedalaman Penurunan Saham: Statistik pasar menunjukkan situasi yang sangat timpang (bearish). Dari sekian banyak emiten yang melantai, sebanyak 720 saham terkoreksi, sementara hanya 58 saham yang mampu menguat, dan 36 saham stagnan. Ini menandakan pelemahan terjadi secara merata di hampir seluruh sektor.
-
Volume dan Aktivitas Transaksi: Meski indeks ambruk, nilai transaksi tergolong sangat besar, yakni mencapai Rp 29,17 triliun. Hal ini mengindikasikan bahwa volume perdagangan sangat likuid dengan keterlibatan 50,41 miliar saham. Tingginya frekuensi transaksi (2,95 juta kali) menunjukkan adanya pergulatan sengit antara sentimen kepanikan (panic selling) dan upaya akumulasi.
Anomali Pergerakan Investor Asing
-
Aksi “Net Buy” di Tengah Kejatuhan: Menariknya, di saat pasar domestik cenderung panik, investor asing justru melihat peluang dari harga yang sudah terdiskon. Tercatat aksi beli bersih (net foreign buy) mencapai Rp 654,94 miliar di seluruh pasar.
-
Distribusi Dana Asing: Aliran dana masuk tersebut paling besar berada di pasar reguler senilai Rp 593,35 miliar, sementara sisanya sebesar Rp 61,59 miliar masuk melalui pasar negosiasi dan tunai. Langkah ini secara psikologis membantu menahan IHSG agar tidak jatuh lebih dalam dari level 5%.
10 Saham Utama Koleksi Asing (Safe Haven)
Berikut adalah daftar emiten yang menjadi incaran utama asing dan berperan sebagai bantalan penahan koreksi indeks:
-
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA): Menempati urutan pertama dengan nilai beli Rp 439,50 miliar. Sebagai saham blue chip dengan kapitalisasi pasar terbesar, BBCA selalu menjadi instrumen utama asing saat terjadi guncangan pasar karena fundamentalnya yang kokoh.
-
PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL): Mendapat suntikan dana asing sebesar Rp 158,04 miliar. Sektor telekomunikasi dinilai lebih defensif terhadap gejolak ekonomi makro.
-
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA): Mengantongi nilai beli bersih Rp 123,71 miliar, menunjukkan ketertarikan asing pada sektor energi dan infrastruktur grup Sinarmas.
-
PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR): Mendapatkan akumulasi sebesar Rp 94,53 miliar, kemungkinan didorong oleh prospek komoditas mineral.
-
PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS): Dengan nilai Rp 85,91 miliar, saham ini sering kali dianggap sebagai aset lindung nilai ketika ketidakpastian pasar meningkat.
-
PT Alamtri Resources Minerals Tbk. (ADRO): Asing mencatatkan pembelian Rp 77,11 miliar, menunjukkan kepercayaan pada arus kas emiten batu bara ini.
-
PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI): Sektor tambang emas kembali masuk radar dengan nilai Rp 72,76 miliar.
-
PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI): Emiten properti ini tetap menarik minat dengan nilai beli Rp 71,77 miliar.
-
PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) & PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN): Dua emiten milik grup Prajogo Pangestu ini masing-masing mencatatkan pembelian Rp 67,86 miliar dan Rp 66,63 miliar, menunjukkan optimisme pada sektor energi terbarukan dan petrokimia.
Kesimpulannya, meskipun pasar domestik dihantui aksi jual, masuknya modal asing ke saham-saham berkapitalisasi besar (Big Caps) dan sektor energi menjadi faktor kunci yang mencegah IHSG jatuh ke level yang lebih mengkhawatirkan.