Dari waktu ke waktu, kinerja saham sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI) silih berganti mengalami penurunan dan kenaikan. Pertanyaannya, manakah sektor saham berkinerja terbaik tahun 2019 ini? Berdasarkan data pasar yang diolah oleh CNBC Indonesia, sektor saham berkinerja terbaik kuartal I/2019 adalah sektor Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi; sedangkan sektor Aneka Industri menampilkan performa terburuk.

Sektor Infrastruktur mencatat kenaikan sebesar 10.50 persen selama kuartal pertama tahun ini, padahal sempat melemah 10.66 persen dalam periode yang sama tahun lalu. Menurut wawancara Kontan dengan beberapa pakar, penguatan sektor Infrastruktur didukung oleh sejumlah faktor, antara lain:
- Sentimen negatif terhadap saham-saham dari sektor Infrastruktur sudah mulai berkurang karena pendanaan akan dicarikan tahun ini.
- Laporan keuangan tahun 2018 dari perusahaan-perusahaan di sektor Infrastruktur menampilkan kinerja yang lebih baik.
- Bank Indonesia diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga lagi, sejalan dengan arah kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve) yang semakin konservatif. Dengan demikian, maka beban bunga bank bagi perusahaan-perusahaan di sektor ini juga bakal berkurang.
Selain kuatnya faktor fundamental, pakar saham ternama Teguh Hidayat juga menilai sektor ini atraktif karena valuasi saham emiten yang terhitung masih murah dan terjangkau. Sejalan dengan itu, ia merekomendasikan saham-saham BUMN dari sektor Infrastruktur, karena lebih berpotensi terlibat dalam penggarapan pembangunan infrastruktur yang sedang digalakkan oleh pemerintah.
Terlepas dari itu, masih ada beberapa risiko yang mengintai sektor saham ini. Teguh Hidayat merujuk pada kemungkinan politisasi sektor Infrastruktur oleh pihak-pihak tertentu. Sementara Head of Research MNC Sekuritas, Edwin Sebayang, mengingatkan tentang rawannya sektor Infrastruktur terhadap risiko seperti bencana alam dan sepinya penggunaan jalan tol.
Nah, apakah Anda tertarik untuk ikut “mengangkut” saham-saham Insfrastruktur dalam beberapa waktu ke depan, atau memilih untuk “Sell in may and go away” dulu? Bulan Mei dikenal sebagai momen buruk di kalangan investor, karena bursa saham biasanya mengalami penurunan dalam periode ini. Namun, bagi sebagian investor lainnya, kecenderungan bearish tersebut justru dianggap sebagai waktu yang tepat guna mengintai momen terbaik untuk “serok bawah” saham-saham potensial. Asalkan fundamental emiten kokoh, maka harga sahamnya hampir pasti tetap rebound di masa depan.
Tagged With : analisa fundamental • saham