Nasdaq dan S&P 500 Catat Pekan Terburuk Sejak Maret 2023, Wall Street Anjlok

Pada perdagangan Jumat (22/9/2023), indeks utama saham Amerika Serikat (AS) alias Wall Street ditutup anjlok. Pasalnya, investor tengah mencerna revisi prospek hawkish The Fed.

Mengutip Reuters, Senin (25/9) ketiga indeks saham utama AS terombang-ambing hampir sepanjang sesi namun berakhir di zona merah, selama sepekan. Ketiganya membukukan kerugian mingguan, dengan S&P 500 dan Nasdaq mencatat persentase penurunan terbesar sejak Maret.

Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 106,58 poin menjadi 33.963,84, S&P 500 (.SPX) kehilangan 9,94 poin menjadi 4.320,06 dan Nasdaq Composite (.IXIC) turun 12,18 poin menjadi 13.211,81.

Pada hari Kamis, S&P 500 turun di bawah rata-rata pergerakan 100 hari level support utama untuk pertama kalinya sejak bulan Maret. Kegagalan untuk menembus di atas level tersebut menunjukkan bahwa S&P 500 masih berada di bawah tekanan.

“Minggu ini adalah tentang beberapa pesan Fed yang bertabrakan dengan investor ekuitas yang terlalu optimis,” kata Kepala Manajemen Portofolio di Horizon Investments Zachary Hill.

Imbal hasil obligasi AS turun dari level tertingginya dalam 16 tahun karena investor mengalihkan fokus mereka dari The Fed yang hawkish ke data ekonomi penting yang akan segera dirilis.

Di sisi lain, investor masih mencerna keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga utamanya, namun memperbarui Ringkasan Proyeksi Ekonomi triwulanan yang menunjukkan bahwa kebijakan moneter ketat akan tetap berlaku lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Volume di bursa AS tercatat sebanyak 9,47 miliar lembar saham, dibandingkan dengan rata-rata 10,09 miliar saham untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

DIPREDIKSI MENGUAT

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat pada perdagangan Senin (25/9). Selama sepekan lalu, IHSG menguat 0,49 persen menjadi pada posisi 7.016,844 dari 6.982,791.

CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan, mengawali pekan terakhir di bulan ke sembilan tahun 2023, terdapat rilis data kinerja emiten yang masih akan menjadi salah satu penopang pola gerak IHSG hingga beberapa waktu mendatang.

“Sedangkan jika melihat pola jangka panjang IHSG yang masih berada dalam jalur uptrend maka peluang koreksi wajar masih dapat dimanfaatkan investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi pembelian,” kata William dalam risetnya, Senin (25/9).

Sementara itu, Tim Analis MNC Sekuritas mencermati posisi IHSG saat ini sedang berada pada bagian dari wave v ekstensi, sehingga pergerakannya masih berpeluang menguat untuk menguji rentang area 7.055-7.090.

“Penguatan IHSG tersebut akan terjadi apabila IHSG mampu menembus 7.046,” tulis tim MNC Sekuritas dalam risetnya.

William merekomendasikan sederet saham, yaitu TLKM, EXCL, ISAT, JSMR, HMSP, TBIG, UNVR, KLBF, BBCA dan BINA. Sedangkan MNC Sekuritas memberi rekomendasi saham antara lain TLKM, PGEO, MDKA, dan AKRA.

 

Leave a Comment