Kekhawatiran Suku Bunga dan Inflasi Picu Wall Street Melemah

Pada perdagangan Kamis (7/9/2023), Wall Street ditutup melemah. Pelemahan indeks saham Amerika Serikat (AS) ini disebabkan penurunan klaim pengangguran mingguan di AS, yang dikhawatirkan akan disusul dengan suku bunga dan inflasi yang tinggi.

Dikutip dari Reuters, Jumat (8/9), Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 57,54 poin, atau 0,17 persen menjadi 34.500,73, S&P 500 (.SPX) kehilangan 14,34 poin, atau 0,32 persen menjadi 4.451,14 dan Nasdaq Composite (.IXIC) turun 123,64 poin, atau 0,89 persen menjadi 13.748,83.

S&P 500 dan Nasdaq pada perdagangan Kamis ini terhambat dari Apple dan aksi jual saham-saham chip karena kekhawatiran mengenai pembatasan iPhone di China.

Saham S&P Apple Inc (AAPL.O) turun 2,9 persen untuk kerugian hari kedua berturut-turut di tengah berita bahwa China telah memperluas pembatasan penggunaan iPhone oleh pegawai negeri, yang mengharuskan staf di beberapa lembaga pemerintah pusat untuk berhenti menggunakan ponsel mereka di tempat kerja.

Hambatan dari Apple, pemasoknya, dan perusahaan-perusahaan dengan eksposur besar ke Tiongkok mendorong sektor teknologi S&P 500 (.SPLRCT) turun 1,6 persen, menjadikannya sektor dengan persentase penurunan terbesar di antara 11 sektor utama yang dijadikan acuan.

Faktor lainnya, Laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim pengangguran turun menjadi 216.000 untuk pekan yang berakhir 2 September, mencapai level terendah sejak Februari. Namun investor khawatir hal ini akan membantu mendorong Federal Reserve untuk melanjutkan kebijakan moneter ketat, sehingga menekan saham.

“Klaim mingguan adalah berita besar pagi ini, kabar baik ditafsirkan sebagai berita buruk dan sulit untuk mengabaikan berita dari Tiongkok tentang Apple,” kata Direktur Pelaksana dan Kepala Perdagangan Ekuitas di Wedbush Securities, Sahak Manuelian.

Investor juga dengan hati-hati mengantisipasi angka inflasi Agustus yang akan dirilis pekan ini. Manuelian menilai, salah satu penyebabnya adalah kenaikan tajam harga minyak baru-baru ini.

FedWatch Tool dari CME Group memperkirakan, kemungkinan The Fed untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah pada bulan September mencapai 93 persen, namun peluang untuk jeda lagi dalam pertemuan bulan November jauh lebih rendah yaitu sebesar 53,5 persen.

“Ada hal yang sangat kecil yang dapat digunakan oleh The Fed untuk menetapkan kebijakan moneter yang cukup ketat, namun tidak terlalu ketat hingga merusak perekonomian. Ini adalah hal yang kecil namun belum sepenuhnya tertutup,” kata Kepala Strategi Investasi di Edward Jones, Craig Fehr.

Di bursa AS, terdapat 9,76 miliar saham berpindah tangan dibandingkan dengan rata-rata pergerakan 10,10 miliar dalam 20 sesi terakhir.

 

Leave a Comment