The Fed Bakal Akhiri Kenaikan Suku Bunga? Wall Street Menguat

Seiring dolar melemah, pada perdagangan hari Jumat (30/6/2023), Bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street ditutup naik tajam. Investor menutup pembukuan dengan kuartal yang solid, dengan data menunjukkan kemajuan upaya Federal Reserve dalam menekan inflasi.

Ketiga indeks saham AS melonjak, membukukan keuntungan sepekan, sebulan, dan kuartal. Dikutip dari Reuters, Senin (3/7), Dow Jones Industrial Average naik 285,18 poin atau 0,84 persen menjadi 34.407,6. S&P 500 naik 53,94 poin atau 1,23 persen pada 4.450,38. Nasdaq Composite bertambah 196,59 poin atau 1,45 persen pada 13.787,92.

Pada semester awal tahun 2023, S&P 500 naik 15,9 persen. Sementara Nasdaq Composite melonjak 31,8 persen, mencatatkan kinerja terbaik dalam empat dekade. Sedangkan Dow mencatat kenaikan 3,8 persen tahun ini.

“Pasar terus memanjat dinding kekhawatiran, yang dipicu optimisme seputar AI menjadi pendorong pertumbuhan baru di sektor pertumbuhan utama,” kata Sam Stovall, kepala strategi investasi CFRA Research di New York.

Laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) dari Departemen Perdagangan menunjukkan inflasi yang lebih rendah dari perkiraan bulan Mei.

Sementara belanja konsumen tiba-tiba melambat, menggambarkan bukti lebih lanjut bahwa rentetan kenaikan suku bunga Fed menyebabkan efek yang diinginkan.

“Kami pikir The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan Juli karena mereka telah memberi tahu kami bahwa itulah yang ingin mereka lakukan, tetapi mereka mengingatkan kami bahwa mereka bergantung pada data,” ujar Stovall.

“Jika data terus menunjukkan pelemahan, maka saya pikir The Fed akan memutuskan untuk mengakhiri program kenaikan suku bunga mereka setelah pertemuan mendatang,” tambahnya.

Pasar keuangan memprediksi peluang 84 persen bahwa Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee) akan menerapkan kenaikan suku bunga 25 basis poin lagi pada akhir pertemuan kebijakan bulan Juli, berdasarkan FedWatch CME.

DIPREDIKSI MENGUAT

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat terbatas pada perdagangan hari Senin (3/7). Selama dua hari perdagangan pekan lalu, indeks saham naik 0,33 persen pada level 6.661,879 dari level 6.639,733 pada pekan sebelumnya.

Tim analis Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan IHSG menguat terbatas dengan support dan resistance di 6.627-6.685. IMF menyampaikan ekonomi Indonesia dapat tumbuh melambat dipengaruhi lesunya permintaan dari mitra dagang Indonesia dan lesunya pasar tenaga kerja Indonesia.

“Hambatan dari kebijakan konsolidasi fiskal terkini dan sikap kebijakan moneter yang lebih ketat akan menyebabkan pertumbuhan kredit lebih lambat. Hal ini tentunya menjadi perhatian pengambil kebijakan moneter dan fiskal,” tulis PIlarmas Investindo Sekuritas dalam risetnya, Senin (3/7).

Pilarmas Investindo Sekuritas melanjutkan, pasar berharap adanya sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal sehingga hal ini akan menopang momentum pemulihan ekonomi nasional hingga akhir tahun untuk menjaga perekonomian untuk tetap tumbuh.

Sementara itu, Analis Bina Artha Sekuritas Ivan Rosanova memprediksi tren IHSG dapat turun hingga level 6.579. Hal ini disebabkan IHSG membentuk candle spinning top dan masih ditutup di bawah garis SMA-20.

“Level support IHSG berada di 6.589, 6.542 dan 6.509. Sementara level resistennya di 6.717, 6.767, 6.815 dan 6.884. Berdasarkan indikator MACD dalam kondisi netral,” tutur Ivan.

Ivan merekomendasikan sederet saham, yaitu BRPT, HRUM, dan MEDC.

  1. BRPT

Recommendation: Speculative Buy Price Range: 690-710 Target Price: 770

  1. HRUM

Recommendation: Buy on Weakness Price Range: 1330-1370 Target Price: 1530

  1. MEDC

Recommendation: Buy on Weakness Price Range: 860-870 Target Price: 930.

 

Leave a Comment