Pada perdagangan Selasa (16/5/2023), Wall Street ditutup melemah, setelah rilis data penjualan ritel Amerika Serikat melemah, lebih rendah dari perkiraan. Sentimen lain yang mempengaruhi tiga indeks utama adalah ketidakpastian suku bunga acuan Fed dan negosiasi Presiden Joe Biden soal batas utang.
Mengutip Reuters, Rabu (17/5), Dow Jones Industrial Average turun 336,46 poin atau 1,01 persen menjadi 33.012,14. S&P 500 kehilangan 26,38 poni atau 0,64 persen menjadi 4.109,9 dan Nasdaq Composite merosot 22,16 poin atau 0,18 persen menjadi 12.343,05.
Home Depot anjlok 2,15 persen, menjadi salah satu tantangan terbesar pada Dow Industrials dan S&P 500, usai ritel perbaikan rumah memangkas perkiraan penjualan tahunan dan memproyeksikan penurunan laba yang lebih dalam.
“Kamu dapat berpendapat bahwa orang-orang ini belanja rumah, mereka ingin pengalaman, mereka ingin melakukan hal-hal lain, mereka tidak ingin memperbaiki rumah menurut Home Depot karena punya pendapatan yang buruk,” kata Ken Polcari, mitra pengelola di Kace Capital Advisors di Boca Raton, Florida.
Departemen Perdagangan melaporkan penjualan ritel naik 0,4 persen pada April, jauh dari perkiraan kenaikan 0,8 persen. Meski penjualan ritel inti telah pulih, hal itu tidak termasuk mobil, bensin, bahan bangunan, dan layanan makanan.
“Ada pemikiran bahwa orang-orang mulai sedikit lebih sensitif keberhasilan The Fed dan drama plafon utang yang sedang berlangsung ini menyebabkan kecemasan,” ujarnya.
Data terbaru menunjukkan perlambatan ekonomi AS, menyusul kebijakan Fed yang kenaikan suku bunga acuan untuk melawan inflasi yang tinggi.
Perlambatan tersebut seiring dengan negosiasi baru-baru ini tentang plafon utang AS pada kapan bank sentral akan berhenti menaikkan suku bunga atau memangkas suku bunga.
Sementara pasar memperkirakan suku bunga turun pada akhir tahun, komentar The Fed akhir-akhir ini menunjukkan bahwa mereka belum siap untuk segera menurunkan suku bunga.
Presiden Richmond Fed Thomas Barkin mengatakan dia “nyaman” dengan menaikkan suku bunga lebih lanjut jika diperlukan. Namun mempertimbangkan opsi yang tersirat dalam pernyataan kebijakan terbaru.
DIPREDIKSI MELEMAH
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan Rabu (17/5). Pada penutupan perdagangan saham Selasa (16/5). IHSG ditutup turun 35,17 poin (0,52 persen) ke 6.676,56.
Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, mengatakan IHSG membentuk black marubozu kemarin. Volume transaksi yang relatif berada di rata-rata mengindikasikan tekanan jual masih cukup solid.
“Oleh sebab itu, waspadai support terdekat IHSG di 6.650 di Rabu,” ujar Alrich dalam analisisnya, Rabu (17/5).
Alrich menjelaskan salah satu sentimen negatif berasal dari penurunan signifikan nilai ekspor Indonesia sebesar 29.4 persen (yoy) dan impor 22.32 persen (yoy) pada April 2023. Data ini memvalidasi penurunan permintaan global, terutama dari Tiongkok di April 2023.
Dia menambahkan, sektor yang berkaitan erat dengan ekspor kemungkinan masih mengalami tekanan untuk beberapa waktu ke depan. Sementara indikasi konsumsi domestik menguat di tengah ekspektasi dorongan dari periode Ramadhan dan Lebaran serta persiapan periode kampanye di kuartal 4 2023.
“Pelaku pasar dapat mencermati peluang buy on support pada BBCA, BBNI, TLKM, serta maintain buy pada BBRI, ASII, INDF dan UNVR,” ungkap dia.
Sementara itu, CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Surya, juga memprediksi pergerakan IHSG saat ini mengalami fase terkoreksi wajar di rentang 6.636-6.789.
“Support level terdekat kembali diuji kekuatannya, sedangkan masih kuatnya fundamental perekonomian Indonesia turut menjadi penopang bagi pergerakan IHSG,” jelasnya.
WIlliam menuturkan, hal tersebut terlihat dari data perekonomian yang telah terlansir beberapa waktu lalu, selain itu masih tercatatnya capital inflow secara year to date (ytd) juga masih menunjukkan kepercayaan investor asing terhadap pasar modal Indonesia.
Dia pun merekomendasikan beberapa saham yang berpotensi cuan hari ini yakni SMGR, BBRI, INDF, UNVR, JSMR, ICBP, dan ASII.