Inflasi AS Turun, Wall Street Menguat

Pada perdagangan Rabu (10/8/2022), indeks utama saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat. Hal itu dipengaruhi setelah turunnya inflasi AS yang mendorong spekulasi bahwa akan diikuti dengan The Fed tidak cepat menaikkan suku bunga.

Mengutip dari Reuters, Kamis (11/8), Dow Jones Industrial Average (.DJI) mengakhiri sesi naik 535,1 poin atau 1,63 persen menjadi 33.309,51, S&P 500 (.SPX) naik 87,77 poin atau 2,13 persen menjadi 4.210,24, dan Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 360,88 poin atau 2,89 persen menjadi 12.854,81.

Adapun, Nasdaq ditutup 20,8 persen di atas penutupan terendah baru-baru ini yang dicapai pada 16 Juni. Nasdaq juga naik 24,9 dari penutupan Rabu untuk kembali ke rekor tertinggi yang dicapai pada bulan November.

Selain itu, pedagang memperkirakan akan ada kenaikan suku bunga 50 basis poin (bps) pada bulan September dibandingkan dengan kenaikan 75 bps yang diharapkan sebelum laporan inflasi.

Kepala Investasi Bank Nasional Huntington, John Augustine mengatakan laporan inflasi kemarin merupakan pereda stres. Untuk itu, mereka membeli saham, obligasi, dan komoditas.

“Kami belum memiliki rilis inflasi yang lebih rendah dari yang diharapkan dalam beberapa waktu,” kata Augustine di Columbus, Ohio.

Kendati demikian, menurutnya, masih ada banyak ketidakpastian seputar apa yang akan dilakukan The Fed dan prospek pertumbuhan ekonomi serta pendapatan untuk tahun 2023.

“Kami tetap netral di sini sampai kami mendapatkan pandangan yang lebih baik tentang tahun depan,” tandasnya.

Inflasi AS 8,5 Persen di Juli

Tingkat inflasi AS menunjukkan penurunan di Juli 2022 menjadi 8,5 persen. Adapun dua bulan sebelumnya, inflasi AS terus mencapai rekor tertinggi yakni pada Mei 8,6 persen dan Juni 9,1 persen.

Penurunan inflasi tersebut,dipengaruhi oleh harga energi yang cenderung flat dalam sebulan terakhir. Tercatat, harga energi dalam sebulan telah turun 4,6 persen dan harga bensin turun 7,7 persen.

Meski begitu, harga pangan AS di Juli 2022 masih naik 1,1 persen dan biaya tempat tinggal juga masih naik 0,5 persen.

DIPREDIKSI MENGUAT

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat pada perdagangan hari Kamis (11/8). Pada perdagangan hari Rabu (10/8), IHSG melemah tipis 16,664 poin (0,23 persen).

CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas William Surya Wijaya, memperkirakan indeks saham berada di rentang 6.921-1.723.

“IHSG masih terlihat akan menguji level all time high-nya kembali. Masa-masa laporan kinerja emiten masih akan menjadi salah satu faktor pendorong kenaikan IHSG hingga beberapa waktu mendatang,” ujar William dalam risetnya, Kamis (11/8).

William mengatakan faktor pendorong kenaikan IHSG lainnya ditambah dengan capital inflow yang terlihat masih terus berlangsung. Demikian juga secara capital inflow masih tercatat terus bertumbuh ke dalam pasar modal Indonesia.

Sementara itu, Research Analyst Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christopher memperkirakan IHSG diprediksi melemah. Investor akan mencermati beberapa rilis data ekonomi.

“Secara teknikal candlestick membentuk lower high dan lower low dengan stochastic membentuk deadcross sehingga mengindikasikan pelemahan,” kata Dennies.

Dennies mengatakan sentimen dari dalam negeri masih akan ditopang oleh musim rilis kinerja emiten semester 1 2022.

Adapun beberapa saham yang direkomendasikan Dennies, yaitu ERAA dan MIKA.

  1. ERAA

Recommendation: Specific Buy

Target Price : 515-525

Entry Level: 490-500

Stop Loss: 486

  1. MIKA

Recommendation: Buy

Target Price: 2.690-2.730

Entry Level: 2.580-2.620

Stop Loss: 2.550

 

Leave a Comment